
Ya tak banyak yang tahu jika pemain bernomor punggung 21 ini adalah seorang Mantri atau petugas medis. Tidak cuma rekan se-tim tetapi bahkan pelatih, Agus Yuwono pus tak mengetahui jika Victor adalah seorang tenaga medis. Adik dari pemain Persipura, Tinus Pae ini memang tak mau mengumbar bahwa dirinya adalah seorang Mantri yang perannya bisa menggantikan tenaga medis di pinggir lapangan.
Namun sekalipun memiliki pekerjaan yang bisa menghidupi ternyata jalan pilihan pemain kelahiran Jayapura 07 Februari 1985 lebih memilih menjadi pesepakbola. Alhasil karir keperawatannya hingga kini disimpan rapat-rapat. “Saya lulus Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) tahun 2005 lalu dan sempat magang di RSUD Abepura namun saya sementara masih ingin bermain bola,” jelas anak ke dua dari lima bersaudara ini saat di temui di Hotel Agas , Solo.
Sebelumnya Victor justru bercita-cita ingin menjadi sang ayah, Nikanor Pae memintanya untuk masuk sekolah perawat di Port Numbay. Dorongan inilah membuat ia harus bergelut dengan pendidikan formal dunia medis hingga lulus di tahun 2005. “Tapi seperti yang saya bilang saya masih ingin bermain bola jadi ketika waktunya pengangkatan saya justru mengikuti seleksi di Persipare, Pare-Pare dan mematikan HP hingga ayah saya sempat marah,” kenang Viktor sambil tertawa.
Semangat bermain bolanya ini diakui diperoleh dari sang ayah yang juga menyukai olahraga bola. Uniknya, mantan pemain Perseman ini tak pernah mendapat pelatihan khusus untuk memulai karirnya, Victor hanya belajar sendiri dengan semangat yang diperoleh dari pemain idolanya, Eduard Ivakdalam. “Ya kaka Edu yang menyemangati saya dalam bermain bola, ia pemain idola saya,” ujar Viktor.
Ia semakin bangga karena kini ia sekamar dengan sang idolanya tersebut. Dengan status tenaga medis yang disembunyikan membuat pemain juga tak banyak menggunakan tenaga Viktor jika mengalami cedera atau sakit padahal ia sangat paham soal penanganan cedera. Tentang cita-cita yang belum tercapai, diakui obsesinya saat ini adalah membawa Persidafon lolos ke ISL dan jika itu terwujud jelas ada kebanggan tersendiri karena berjuang dengan pemain idolanya. “Tinggal itu dan saya tidak pernah berfikir untuk pindah club,” tandasnya.
Tentang karirnya bersama sang kakak, Tinus Pae, Viktor mengatakan bahwa jelas ada keinginan bisa bermain untuk Persipura namun lucunya sang kakak tak pernah mengijinkan Viktor untuk bermain satu club dengannya. Pemain yang awalnya berposisi winger ini menceritakan bahwa suatu ketika ia dan Tinus Pae ngobrol soal sepakbola namun Tipae memintanya untuk tidak masuk ke Persipura entah mengapa. “Ia (Tipae) bilang saya harus cari club lain dan jangan di Persipura, mungkin dia malu,” ucap Viktor sambil tertawa.
Dari pernyataan sang kakak ini rupanya diadukan ke Edu dan saat itu juga Edu langsung menelpon Tipae dan memarahi Tipae. “Kaka Edu marah Tipae dan bilang bukan ia yang menentukan nasib saya,” tandasnya.
Viktor memang sangat menghormati Edu, bahkan jika Edu berada di kamar bisa dibilang Viktor jadi anak manis dengan duduk diam di kamar. Uniknya selama bermain bola ternyata nomor punggungnya sama dengan nomor punggung sang kakak yaitu 21. “Ini nomor punggung Andrea Pirlo yang merupakan salah satu pemain favorit saya juga,” tandasnya. Dikatakan jika karir dalam sepakbolanya berakhir, Viktor ingin kembali melanjutkan pendidikan menjadi pegawai negeri. “Itu pilihan terakhir,” imbunya. (*)
Namun sekalipun memiliki pekerjaan yang bisa menghidupi ternyata jalan pilihan pemain kelahiran Jayapura 07 Februari 1985 lebih memilih menjadi pesepakbola. Alhasil karir keperawatannya hingga kini disimpan rapat-rapat. “Saya lulus Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) tahun 2005 lalu dan sempat magang di RSUD Abepura namun saya sementara masih ingin bermain bola,” jelas anak ke dua dari lima bersaudara ini saat di temui di Hotel Agas , Solo.
Sebelumnya Victor justru bercita-cita ingin menjadi sang ayah, Nikanor Pae memintanya untuk masuk sekolah perawat di Port Numbay. Dorongan inilah membuat ia harus bergelut dengan pendidikan formal dunia medis hingga lulus di tahun 2005. “Tapi seperti yang saya bilang saya masih ingin bermain bola jadi ketika waktunya pengangkatan saya justru mengikuti seleksi di Persipare, Pare-Pare dan mematikan HP hingga ayah saya sempat marah,” kenang Viktor sambil tertawa.
Semangat bermain bolanya ini diakui diperoleh dari sang ayah yang juga menyukai olahraga bola. Uniknya, mantan pemain Perseman ini tak pernah mendapat pelatihan khusus untuk memulai karirnya, Victor hanya belajar sendiri dengan semangat yang diperoleh dari pemain idolanya, Eduard Ivakdalam. “Ya kaka Edu yang menyemangati saya dalam bermain bola, ia pemain idola saya,” ujar Viktor.
Ia semakin bangga karena kini ia sekamar dengan sang idolanya tersebut. Dengan status tenaga medis yang disembunyikan membuat pemain juga tak banyak menggunakan tenaga Viktor jika mengalami cedera atau sakit padahal ia sangat paham soal penanganan cedera. Tentang cita-cita yang belum tercapai, diakui obsesinya saat ini adalah membawa Persidafon lolos ke ISL dan jika itu terwujud jelas ada kebanggan tersendiri karena berjuang dengan pemain idolanya. “Tinggal itu dan saya tidak pernah berfikir untuk pindah club,” tandasnya.
Tentang karirnya bersama sang kakak, Tinus Pae, Viktor mengatakan bahwa jelas ada keinginan bisa bermain untuk Persipura namun lucunya sang kakak tak pernah mengijinkan Viktor untuk bermain satu club dengannya. Pemain yang awalnya berposisi winger ini menceritakan bahwa suatu ketika ia dan Tinus Pae ngobrol soal sepakbola namun Tipae memintanya untuk tidak masuk ke Persipura entah mengapa. “Ia (Tipae) bilang saya harus cari club lain dan jangan di Persipura, mungkin dia malu,” ucap Viktor sambil tertawa.
Dari pernyataan sang kakak ini rupanya diadukan ke Edu dan saat itu juga Edu langsung menelpon Tipae dan memarahi Tipae. “Kaka Edu marah Tipae dan bilang bukan ia yang menentukan nasib saya,” tandasnya.
Viktor memang sangat menghormati Edu, bahkan jika Edu berada di kamar bisa dibilang Viktor jadi anak manis dengan duduk diam di kamar. Uniknya selama bermain bola ternyata nomor punggungnya sama dengan nomor punggung sang kakak yaitu 21. “Ini nomor punggung Andrea Pirlo yang merupakan salah satu pemain favorit saya juga,” tandasnya. Dikatakan jika karir dalam sepakbolanya berakhir, Viktor ingin kembali melanjutkan pendidikan menjadi pegawai negeri. “Itu pilihan terakhir,” imbunya. (*)
