
Klub Djarum Indonesia Super League (DISL) tampaknya harus meninjau kembali demam kebijakan perekrutan pemain asing Korea Selatan (Korsel).
Performa mereka belum seperti harapan. Seperti diketahui, putaran keduaDISLmemangdibanjiripemain Korsel.Jumlah pemain asal Negeri Ginseng tersebut melonjak signifikan dari dua menjadi 11 nama. Pengekspor amunisi Asia terbanyak kedua ditempati Jepang dengan enam pemain,baru Singapura dengan empat nama.Namun,menjadi donatur terbanyak tidak menjamin koneksi Korsel akan sukses. Park JungHwandkkrata-ratahanya dimainkan 82,58 menit per pertandingan dengan produktivitas 0,14 gol.Mereka diberi banderol Rp5,30 juta per menit.Nilai lebih tinggi dari pemain Asia lainnya. Amunisi berpaspor Singapura rata-rata dibanderol Rp4,80 juta per menit.
Klub konsumen seperti Persija Jakarta dan Arema Malang rata-rata memainkan mereka 87,18 menit per laga dengan produktivitas 0,17 gol.Rapor lebih bagus dari koneksi Korsel juga ditunjukkan pemain asal Thailand. Klub ratarata memainkan amunisi asal Negeri Gajah Putih selama 87,15 menit dengan nilai Rp4,59 juta.Hanya, produktivitas mereka bisa dikatakan sama dengan 0,13 gol. Catatan relatif bagus juga ditunjukkan koneksi Jepang. Klub rata-rata memberikan kesempatan mereka bermain selama 87,11 menit dengan beban biaya Rp4,66 juta.Namun, produktivitas mereka positif dengan 0,19 gol.Pelatih Persik Kediri Agus Yuwono mengungkapkan, perekrutan pemain Korsel didasarkan pada pemenuhan regulasi.
”Kami mengikuti aturan Liga.Perekrutan pemain Korsel sekadar memenuhi kuota. Untuk lebih selektif saat ini memang belum. Kami tidak bisa memaksakan kualitas,”ungkapnya kemarin. Bersama Macan Putih, julukan Persik, Na Byung-yul mendapatkan posisi inti tujuh laga dengan menit bermain 540. Rapor mirip dimiliki Han Jiho dengan menit bertanding 490, tapi sudah mencetak tiga gol.Performa minor bila dibandingkan dengan duo China Zhang Shuo (Persik) dan Qu Cheng (Persipura) yang sama-sama mengemas tiga gol.Namun,Tang Tian (Persipura) memiliki rata-rata bermain 84,38 menit dengan banderol Rp4,14 juta. ”Kami sulit mendapatkan pemain Korsel,China,atau Jepang dengan kualitas satu. Memakai pemain Asia Tenggara juga dilematis karena kualitas mirip.
Pemain Korsel juga kesulitan adaptasi karena tidak semua bisa berbahasa Inggris,”tuturnya. Sementara itu, CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono menjelaskan, pemain Korsel cenderung bertipe mekanis. Hal berbeda dengan pemain dari Amerika Latin lainnya yang lebih berkarakter stylish.Terbatasnya waktu perekrutan juga menjadi dilema tersendiri. Sebab, rata-rata klub hanya menggunakan riwayat hidup dan data penunjang lainnya sebagai acuan.
Rata-rata klub menerima pemain dari rekomendasi agen.Tapi,pemain Korsel butuh kondisi yang serbateratur. Imbasnya, mereka sulit beradaptasi. Kondisi berbeda dengan pemain Amerika Latin yang lebih luwes. (wahyu argia)
