
Seyogyanya digelar Rabu (23/12) di Stadion gelora Bung Karno, Jakarta, batal digelar lantaran tak mendapatkan izin dari pihak kepolisian. Meski begitu, aroma panas tetap menyengat terkait pertarungan dua tim ibukota itu meskipun ditunda sampai batas waktu yang ditentukan.
Rivalitas dan persaingan dua tim ibukota ini mencuat seiring dijualnya Persijatim Jakarta Timur ke Pemprov Sumatera Selatan dan di waktu bersamaan Persitara naik ke kasta Divisi Utama pada musim 2006. Persitara yang merasa sebagai anak tiri selalu berusaha menyamai prestasi Persija. Ada istilah boleh kalah dari tim lain asalkan tidak saat menghadapi Persija.
Alhasil, derby ibukota selalu panas. Konflik di luar sepak bola acap membumbui. Misalkan membandingkan dana APBD yang didapatkan kedua tim. Persija selalu mendapatkan prioritas dari Pemprov DKI Jakarta. Sebagai klub yang sudah berusia 81 tahun, “Tim Macan Kemayoran” dinilai sebagai simbol Ibukota. Karena itu, mereka selalu mendapatkan kucuran dana APBD yang lebih besar. Sejak musim 2005, Persija minimal mendapatkan Rp 20 miliar per tahun.
Sedangkan Persitara mendapatkan nominal jauh lebih kecil. Musim ini, Persija sudah mendapatkan kucuran setidaknya Rp 14,6 miliar untuk belanja pemain. Mereka masih meminta tambahan Rp 12 miliar lagi di APBD perubahan. Sedangkan Persitara baru mendapatkan Rp 6 miliar. Setidaknya sampai akhir tahun 2009, dua klub ibukota tersebut telah menyedot uang rakyat lebih dari Rp 20 miliar.(top skor)
