Share |

Aremania Dukung KLB


PSSI melalui rapat Komite Eksekutif (Exco) di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat (30/9) kemarin akhirnya memutuskan kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim depan tetap diikuti 24 klub. Itu sesuai dengan rilis yang disampaikan Ketua Bidang Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, Selasa (27/9) kemarin.
Padahal jumlah 24 peserta kompetisi ini banyak menuai protes. Termasuk dari salah satu anggota Exco PSSI, La Nyalla Mattaliti yang hingga rapat kemarin tetap bersikukuh agar kompetisi hanya diikuti 18 klub seperti musim lalu. Sayang, mayoritas anggota Exco memutuskan 24 klub. ‘’Sudah diputuskan tapi peserta kompetisi tetap 24 tim. Mengenai hal lebih lanjut tanya sajalah ke Pak Sihar, yang jelas saya tetap bersikukuh pada 18 klub,’’ ungkap La Nyalla saat jeda rapat Exco kemarin sore mengaku SK (Surat Keputusan) untuk 24 klub itu masih belum dikeluarkan PSSI.
Anggota Exco yang juga Ketua Pengprov PSSI Jatim ini mengaku kecewa atas keputusan tersebut. Pasalnya, La Nyala berkeyakinan bahwa format kompetisi ISL dengan jumlah peserta 24 klub itu melanggar statuta PSSI. Untuk itu, wacana KLB (Kongres Luar Biasa) yang digulirkannya bakal berlanjut.
‘’Saya tetap beranggapan bahwa ini melanggar statuta PSSI. Saya sudah sampaikan seperti itu dalam rapat tadi, tapi tidak digubris juga. Ya sudahlah,’’ ujar La Nyalla tampak kesal dan tak habis pikir dengan sikap PSSI yang ngotot mempertahankan keputusan 24 klub peserta kompetisi ISL.
Meski sempat mendapat dukungan dari anggota Exco yang lain yaitu Toni Apriliani dan kabarnya juga dari dua anggota Exco lainnya, namun putusan tetap 24 klub peserta kompetisi ISL. Padahal menurut La Nyala, perubahan format kompetisi seharusnya diambil lewat Kongres PSSI.
Perihal dugaan ada pihak lain yang sengaja mengintervensi keputusan PSSI, La Nyala meminta masyarakat untuk menilainya. ’’Saya tidak bisa sebut. Tapi melihat kenyataan begini, silahkan masyarakat menilai sendiri,’’ terang La Nyalla menganggap masyarakat sudah mengerti kondisi PSSI saat ini.
Pria asal Makassar ini pun tak akan tinggal diam, dan akan memenuhi janjinya untuk menggalang dukungan menggelar KLB. ’’Insya Allah, saya tetap pada keputusan saya. Sekali layar terkembang, pantang surut," sebut La Nyalla perihal tekadnya mewujudkan wacana KLB tersebut.
Sementara itu, bergulirnya wacana KLB ini tampaknya jadi angin segar untuk manajamene Arema. Khususnya Arema yang berkantor di jalan Sultan Agung 9, Kota Malang. Lantaran Arema dibawah kendali tiga Pembina, Rendra Kresna, Iwan Kurniawan dan Eddy Rumpoko ini merasa telah didzolimi PSSI.
’’Dari awal kami selalu kritis dengan PSSI, soal 24 klub sudah mencederai statute, mungkin dengan KLB itu untuk mengingatkan PSSI agar kembali ke jalurnya. Tidak hanya soal keputusan 24 klub itu saja, banyak keputusan termasuk terkait Arema Indonesia yang kurang obyektif, tidak fairplay dan tidak transparan,’’ jelas Manajer Media Officer Arema, Sudarmaji.
’’Karena itu, ini bisa menjadi momentum untuk perbaikan profesionalisme PSSI dan kami yakin semua klub dan staksholder sepakbola ingin agar PSSI ini jauh lebih baik,’’ sambung mantan wartawan ini , tadi malam. Aremania pun pastinya mendukung digelarnya KLB ini.
Boleh jadi, KLB tersebut menjadi satu-satunya cara untuk meluruskan kinerja PSSI dibawah pimpinan Djohar Arifin Husin ini. Meski itu tidak mudah, kepimpinan Djohar yang baru dipilih lewat KLB PSSI di Solo, 19 Juni lalu ini sudah diprediksikan tak akan bertahan hingga akhir tahun nanti.
’’Ya, semoga hal itu (KLB, Red) terjadi, melihat kinerja PSSI sekarang yang tidak professional dan sering berubah-rubah keputusan masalah kompetisi, dan anggota PSSI tidak pernah satu suara untuk mengambil keputusan,’’ ucap Hans Budi P. Ambon, salah satu Aremania yang mendukung digelarnya KLB itu. (bua)
Share on Google Plus

About 12paz