
Hal itu diungkapkan Pelatih Persipura Jacksen F Tiago, Senin (26/9/2011) sehari menjelang laga. "Kami sangat terkejut ketika tiba di Arbil. Mengingat kota ini bagian dari Irak, kami semula berpikir, ini tempat yang mengerikan. Dari berita-berita, orang luar mengira seluruh Irak sangat berbahaya dan selalu ada perang di negeri ini," tutur Jacksen, seperti dikutip situs resmi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
"Kami pikir, kami akan menjadi orang asing satu-satunya yang mengunjungi Irak. Tetapi, begitu kami mendarat di sini, kami melihat banyak orang asing dan wartawan. Saya benar-benar senang berada di sini," kata Jacksen.
Arbil merupakan salah satu kota paling aman di Irak dan tidak banyak diwarnai kekisruhan politik.
Belum lama ini, FIFA melarang Irak menggelar laga tim nasional mereka di seluruh wilayah negeri itu, terkait tidak dipenuhi standar keamanan dan pengamanan saat mereka menjamu Jordania pada laga kualifikasi Piala Dunia 2014 di Stadion Francouse Al-Hareeri, Arbil, 2 September. FIFA memerintahkan Irak menggelar laga kandang di tempat netral saat menjamu lawan-lawan mereka di ajang kualifikasi Piala Dunia 2014 dan kualifikasi Olimpiade 2012.
Hukuman tersebut tidak mencakup laga klub-klub Irak. Arbil, salah satu klub Irak, tetap bisa menjamu Persipura di kota mereka, bahkan di stadion yang membuat timnas Irak dicekal FIFA untuk berlaga di negeri sendiri.
Persipura kalah 1-2 dari Arbil pada leg pertama di Jayapura, dua pekan lalu. Untuk bisa lolos ke semifinal, tim berjuluk "Mutiara Hitam" harus menang selisih dua gol (2-0 atau 3-1) atau menang selisih satu gol dengan lebih produktif mencetak gol (3-2).
