
Ambisi Persib Bandung mengejar gelar Indonesia Super League 2010/ 2011 terjerat masalah internal tim. Pelatih Darko Daniel Janackovic hanya jadi bagian dari intrik internal.
Tidak ada pengakuan adanya konflik internal, tapi sikap,polah,dan semua kabar yang berkembang di tim Maung Bandung menunjukkan betapa buruknya pola persiapan yang dilakukan Persib. Konflik itu tergambar dari komentar dan sikap Darko serta Manajer Umuh Muchtar. Kata dan kalimat mereka selalu bersinggungan atau bertolak belakang, terutama menyangkut kebijakan perekrutan pemain. Apa yang dilakukan Darko hanya berpotensi menimbulkan dua kemungkinan.Kemungkinan Persib membentuk tim yang lebih baik atau lebih buruk dibandingkan musim lalu.
Kemungkinan kedua akhirnya yang lebih dirasakan, karena apa yang dilakukan Darko agak kurang lazim. Atas nama demi mencari loyalitas dari seorang pemain, Dako terus mengulur waktu dan menyibukkan diri dengan proses seleksi. “Kami bisa tahu mana pemain yang benar-benar mau membela tim dan tidak,” kata Darko, menjawab pertanyaan kenapa dia berlarut-larut dalam mencari pemain. Akibatnya sejumlah pemain dibuat pusing sekaligus khawatir. Mereka tak kunjung mendapatkan kepastian menyangkut kontrak pemain. Hingga akhirnya menemui titik terang pertengahan pada September atau kurang dari sebulan sebelum kompetisi dimulai. Intrik internal akhirnya mulai mereda ketika Darko mengumumkan pemain yang dibawa ke Palembang mengikuti Inter Island Cup (IIC) 2010.
Kontroversi tidak berhenti di situ.Turnamen pramusim edisi pertama ini ternyata hanya dijadikan ajang seleksi bukan pematangan tim. Terlebih, cela akhirnya dialami Maung Bandung di IIC 2010.Seusai menumbangkan Persiba Balikpapan 3-2 pada laga pertama,Persib kemudian dengan mudah menyerah 0-6 dari Sriwijaya FC (SFC).Kekalahan yang kemudian menimbulkan prasangka adanya konspirasi meloloskan SFC ke final IIC 2010. Kontroversi itu menunjukkan secara organisasi Persib masih memerlukan perbaikan. Tak ada yang bisa memastikan siapa yang menentukan kebijakan.
Semua figur yang ada di jajaran pengurus seolah ingin mendapatkan porsi fungsi kerja yang lebih besar dengan kata lain terlalu banyak yang ingin menjadi pengambil keputusan. “Pemain tentu merasa kebingungan dengan kondisi yang terjadi. Sekarangkamitakpernahtahu siapasebenarnya yangmenentukan masalah kontrak pemain,”ucap bek muda Persib Wildansyah. (mohamad taufik)
