
Isu suap mengemuka kembali di kancah sepak bola Tanah Air.Pemuncak klasemen Djarum Indonesia Super League (DISL) Arema Indonesia diklaim masuk bursa.
Pernyataan tersebut diungkapkan Wakil Ketua Bidang Organisasi PSSI Pengcab Probolinggo Henky Bambang Widodo di sela-sela rapat Komisi A Kongres Sepak Bola Nasional (KSN), Selasa (30/3) malam. Henky menjelaskan, Arema bisa dipastikan akan mengangkat trofi juara tahun kedua DISL. Sebab, klub berjuluk Singo Edantersebut sejak awal kompetisi sudah mendapatkan wild card.
“Tahun ini Arema harus juara. Sebelum kompetisi digulirkan, sudah ditetapkan Arema juaranya oleh PSSI,”ungkapnya kemarin. Peluang Singo Edan juara saat ini sangat terbuka, apalagi setelah menang 2-0 atas Persitara Jakarta Utara, Selasa (30/3). Anak asuh Pelatih Robert Rene Albert tersebut kokoh di puncak klasemen dengan nilai 54 dari 26 pertandingan. Noh Alam Shah dkk unggul enam angka atas Persiba Balikpapan,tapi sang pesaing sudah menjalani 28 laga.
Mungkinkahstatusjuara Singo Edan terkait dengan tukar guling proyek yang didapat oleh salah satu perusahaan rekanan PSSI? Henky menambahkan,PSSI sudah melakukan pelanggaran berat lantaran menyelewengkan filosofi sepak bola industri.“PSSI sebenarnya sudah melanggar UU nomor lima tahun 2005,Pasal 17 karena menetapkan sepak bola industri.
Mereka semakin bersalah karena melakukan jual-beli wasit untuk mengatur skor pertandingan,”lanjutnya. Henky merinci tarif yang harus dibayarkan Persikapro Kabupaten Probolinggo saat promosi ke Divisi III 2008. Klub harus membayar Rp25 juta setiap kali menjadi tuan rumah. Uang tersebut diserahkan kepada PSSI Pengprov Jawa Timur (Jatim) melalui rekening Ali Mustofa.
Klub juga wajib menyerahkan uang Rp30 juta kepada wasit.Biaya klub akan bertambah bengkak kalau mendapatkan tiga angka. “Kalau menang, kami selalu didatangi mereka dan membayar Rp20 juta. Tarif lebih tinggi bila klub luar Jawa bermain di Jatim karena harus menyiapkan uang Rp50 juta.Jadi,klub justru diwajibkan menyuap mereka, ”sebutnya.
Rapor PSSI sebelumnya merah atas munculnya beberapa kasus suap.Sepak bola Indonesia sempat dikejutkan adanya pengaturan pertandingan yang melibatkan PSBL Bandar Lampung dengan Perseba Bangkalan pada Kompetisi U-18. Perseba sempat mengklaim adanya permintaan uang sejumlah Rp250 juta untuk biaya penyelenggaraan dan wasit. Dana tersebut dikirimkan melalui rekening BCA 1850386XXX atas nama Muchtimus Rijal.
Kasus lainnya adalah percobaan suap yang dilakukan Ketua Panpel Arema Abdul Haris kepada Ketua Komdis Hinca Panjaitan.Demi mendapatkan keringanan vonis hukuman, Haris diklaim Hinca menawarkan 10% dari total pendapatan tiket derby Malang yang mencapai Rp1 miliar.“Bandar Lampung itu sebenarnya dikorbankan. Bagaimanapun, otaknya tetap Bangkalan. Kasihan mereka.Tapi,semua tetap salah PSSI karena klub juga sebenarnya tidak berdaya,”katanya. (wahyu argia)
