
Penampilan mantan pemain depan Deltras Sidoarjo, Amadeus Suropati yang merapat ke salah satu klub Liga Super Indonesia 2009/2010, PSPS Pekanbaru masih mengecewakan dan jauh dari harapan yang diinginkan tim.
"Dari visi bermain, Amadeus belum terlihat sebagai seorang striker," kata Pelatih PSPS, Abdurrahman Gurning, di Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, Sabtu.
Di sela-sela PSPS melakoni partai uji coba dengan tim PSPS usia 21 yang dimenangkan tim Askar Bertuah di stadion kebanggaan warga Pekanbaru dengan skor 4-1, pergerakan pemain kelahiran Bali, 31 Desember 1985 itu terlihat lamban.
Meski Gurning memasangnya sebagai striker murni dengan skema 4-4-2, pemain blasteran Indonesia-Australia tersebut banyak kehilangan bola dan tidak memiliki inisiatif ketika berada di kotak 16 besar.
Hampir sepanjang pertandingan, Amadeus tidak memiliki gerakan tanpa bola atau mengecoh pemain belakang lawan dan malah sering ketinggalan ketika kedua rekan setim yang berposisi sebagai pemain sayap melakukan serangan.
Bahkan dari empat gol yang dihasilkan oleh anak-anak Askar Bertuah, tidak satu pun gol atau assist yang berbuah gol disumbangkan bomber yang mengaku menjadi top skor ketika bermain di Australia saat masih junior.
Padahal sejak menginjakkan kaki di Kota Bertuah Pekanbaru, Amadeus yang didaftarkan sebagai pemain PSPS ke Badan Liga Indonesia itu telah enam kali bergabung mengikuti latihan bersama anak asuhan Gurning.
"Memang dari enam kali latihan yang diikuti, sepertinya dia masih perlu waktu lagi menunjukan kualitasnya. Namun keputusan sepenuhnya kami serahkan ke manajemen," ujar Gurning.
Manajemen PSPS sendiri memberi batas waktu hingga 15 November 2009 bagi Amadeus Suropati untuk membuktikan dirinya pantas bergabung dengan tim Askar Bertuah di ajang kompetisi Liga Super Indonesia.
Pasalnya, kata Manager PSPS Destrayani Bibra, dari hasil sesi latihan yang diikuti pemain itu tampak kurang menggembirakan karena tidak didukung stamina yang baik meski memiliki teknik permainan bola.
Dengan kondisi pemain seperti itu maka dikhawatirkan akan merusak permainan tim secara kolektif anak-anak PSPS yang mulai menunjukkan grafik peningkatan dalam setiap pertandingan. (ant/row)
