
Wacana dari manajemen yang meminta bagi hasil dari penjualan pernak-pernik dan marchandise Sriwijaya FC ditanggapi beragam para pedagang. Umumnya mereka setuju jika SFC mematenkan logo dan nama tetapi Namun sedikit keberatan dengan pembagian hasil 65-35 persen.
Ketua Sriwijaya Mandiri Suporter (Simanis) Qusoy, Selasa (2/7) setuju dengan rencana tersebut, karena menurutnya kapan lagi sepakbola Indonesia bisa mandiri seperti di Eropa. Langkah mematenkan logo sebagai upaya untuk menghilangkan adanya pembajakan kekayaan intelektual sangat di dukungnya.
“Tetapi selain dari yang bermerek dan berlogo SFC jangan di hitung, karena kami juga biasanya sering membuat produk dengan logo sendiri. Karena kami juga mau menghidupi organisasi kami. Sedangkan untuk pembagian hasil, kalau bisa di negosiasi lagi, karena terus terang 35 persen itu cukup berat,” katanya.
Dia juga menyarankan, untuk mendeteksi keberadaan pedagang atau agen di luar yang telah resmi berada di bawah koordinasi manajemen, agar dibuatkan label atau hand tag di seluruh prudok dagangannya. “Jadi kalau nanti ada yang menjual di luar dari itu maka harus di sita,” ujar Qusoy.
Hal serupa juga diungkapkan Agus, Pemilik usaha Warung Bola ALIEF BA Sport, Selasa (2/8/2011), untuk izin dan dikoordinir SFC ia setuju saja, karena semua untuk SFC juga. Tetapi kalau soal pembagian keuntungan sebesar 65-35 ia mengaku keberatan."Apalagi setiap pedagang tentunya memiliki tingkatan yang berbeda-beda,” katanya.
Sebab menurut Agus, cukup berat bagi hasil meningat para pedagang memiliki kualitas dagangan yang berbeda-beda dan ini juga tentunya berpengaruh kepada nilai jual barang yang jual, ada yang mengambilnya dari Pasal 16 secara grosiran, tetapi banyak juga yang sengaja membuat produknya di Bandung.
"Sebenarnya sejak musim lalu dirinya sudah menawarkan kepada pihak manajemen untuk mengkoordinir seluruh pedagang khususnya yang berjualan di kawasan Stadion GSJ agar lebih tetib dan setiap pedagang bisa sedikit membantu keuangan tim," katanya.
Namun sayangnya saat itu komunikasi yang telah dilakukannya tidak berjalan karena tidak adanya tangapan. Agus bahkan menyarankan bagaimana jika pembagian hasil itu diganti dengan pemberlakuan izin.
"Karena kalau bagi hasil, itu malah akan merugikan bagi manajemen. Sebab SFC hanya akan mendapatkan royalti dari jumlah yang dilaporkan saja, sedangkan pedagang ternyata bisa menjual lebih dari itu. Kan, tidak enak juga,”sarannya.
Ketua Sriwijaya Mandiri Suporter (Simanis) Qusoy, Selasa (2/7) setuju dengan rencana tersebut, karena menurutnya kapan lagi sepakbola Indonesia bisa mandiri seperti di Eropa. Langkah mematenkan logo sebagai upaya untuk menghilangkan adanya pembajakan kekayaan intelektual sangat di dukungnya.
“Tetapi selain dari yang bermerek dan berlogo SFC jangan di hitung, karena kami juga biasanya sering membuat produk dengan logo sendiri. Karena kami juga mau menghidupi organisasi kami. Sedangkan untuk pembagian hasil, kalau bisa di negosiasi lagi, karena terus terang 35 persen itu cukup berat,” katanya.
Dia juga menyarankan, untuk mendeteksi keberadaan pedagang atau agen di luar yang telah resmi berada di bawah koordinasi manajemen, agar dibuatkan label atau hand tag di seluruh prudok dagangannya. “Jadi kalau nanti ada yang menjual di luar dari itu maka harus di sita,” ujar Qusoy.
Hal serupa juga diungkapkan Agus, Pemilik usaha Warung Bola ALIEF BA Sport, Selasa (2/8/2011), untuk izin dan dikoordinir SFC ia setuju saja, karena semua untuk SFC juga. Tetapi kalau soal pembagian keuntungan sebesar 65-35 ia mengaku keberatan."Apalagi setiap pedagang tentunya memiliki tingkatan yang berbeda-beda,” katanya.
Sebab menurut Agus, cukup berat bagi hasil meningat para pedagang memiliki kualitas dagangan yang berbeda-beda dan ini juga tentunya berpengaruh kepada nilai jual barang yang jual, ada yang mengambilnya dari Pasal 16 secara grosiran, tetapi banyak juga yang sengaja membuat produknya di Bandung.
"Sebenarnya sejak musim lalu dirinya sudah menawarkan kepada pihak manajemen untuk mengkoordinir seluruh pedagang khususnya yang berjualan di kawasan Stadion GSJ agar lebih tetib dan setiap pedagang bisa sedikit membantu keuangan tim," katanya.
Namun sayangnya saat itu komunikasi yang telah dilakukannya tidak berjalan karena tidak adanya tangapan. Agus bahkan menyarankan bagaimana jika pembagian hasil itu diganti dengan pemberlakuan izin.
"Karena kalau bagi hasil, itu malah akan merugikan bagi manajemen. Sebab SFC hanya akan mendapatkan royalti dari jumlah yang dilaporkan saja, sedangkan pedagang ternyata bisa menjual lebih dari itu. Kan, tidak enak juga,”sarannya.