
Bayang-bayang kebangkrutan Arema menjadi ancaman yang serius untuk tim kebangaan Aremania ini. Menyusul hingga saat ini belum juga ada keseriusan dari investor baru untuk menyelamatkan Arema dari krisis finansial.
Tawaran terbuka yang dilakukan pengurus Arema, dalam hal ini Presiden Klub Arema, Rendra Kresna beberapa waktu lalu belum mendapatkan respon positif dari para investor. Meski satu nama yaitu Bakrie Grup sudah muncul kepermukaan.
Namun hingga kemarin, tidak ada tanda-tanda Bakrie Grup atau investor yang lain untuk serius melakukan penawaran. Bahkan pengurus Arema pun menjadi tertutup dan tak memberi keterangan apa pun terkait kehadiran investor tersebut.
Sementara batas waktu yang diberikan oleh pengurus Arema itu sendiri adalah Kamis (26/5) nanti. Sehingga tersisa empat hari lagi, sebelum pengurus Arema akhirnya harus berjuang sendiri menghidupi tim berjuluk Singo Edan ini.
Lalu apa yang menyebabkan investor tak kunjung datang? “Saat ini, investor yang akan masuk ke Arema tentunya harus menyiapkan dana dua kali lipat,” ungkap Fuad Ardiansyah, pengusaha yang juga suporter tim Arema ini , kemarin sore.
“Pertama untuk menyelesaikan kompetisi musim ini, kedua menyiapkan dana untuk kompetisi berikutnya. Saya lihat dari kacamata orang bisnis, investor sulit masuk karena masa depan sepakbola Indonesia itu masih suram,” sambungnya.
Kondisi tersebut tak lepas dari persoalan di PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) yang tak kunjung selesai. Kisruh di induk organisasi sepakbola Indonesia itu mengancam adanya sanksi dari otoritas sepakbola dunia, FIFA.
“Hitungannya disitu, dan saya kira semua investor akan berpikir sama, Okelah bisa menolong Arema dalam sebulan ini, tapi bagaimana berikutnya. Misalkan Arema bisa masuk AFC Cup musim depan, apakah musim depan itu bisa main,” jelas Fuad.
“Investor tentu butuh kejelasan soal itu, apalagi saat ini pengurus Arema sendiri juga tidak jelas. Artinya persoalan di internal pengurus Arema itu juga harus segera diselesaikan agar investor bisa masuk,” lanjut Aremania korwil Cili ini.
Tak bisa dipungkiri, konflik internal pengurus memang cukup mempengaruhi masuknya investor. Sebut saja Bakrie Grup yang selama ini diwakili oleh Andi Darussalam Tabusalla mau masuk asalkan manajemen Arema dirombak.
Tidak tanggung-tanggung, Bakrie kabarnya menginginkan perombakan Direksi PT Arema Indonesia dan pengurus Yayasan Arema. Khususnya meminta Ketua Yayasan Arema, Muhammad Nur mundur dari posisinya tersebut.“Jadi kalau ada investor yang mau masuk, sekarang ini mau bicara dengan siapa. Sekarang mungkin Pak Rendra yang sering muncul, tapi kemudian pendapat Pak Nur ternyata berbeda lagi, ini yang susah,” terang Fuad.
Terlepas persoalan internal pengurus tersebut, nilai jual Arema kini mulai dipertanyakan. Khususnya dengan sulitnya investor maupun sponsor besar yang akan bergabung, menyisakan pertanyaan perihal nilai jual tim berlogo kepala Singa ini.
“Ya, sepertinya memang tidak ada yang dijual. Untuk saat ini yang dijual hanya jatah tim Arema main di ISL (Indonesia Super League) itu saja, dan sudah menjadi harga mati, tim Arema tidak bisa keluar dari Malang,” sebut Fuad.
Sehingga siapapun investor atau pihak-pihak yang ingin membeli Arema, tidak bisa membawanya keluar dari Malang. Sementara di Malang, Arema nyaris tak memiliki aset apa pun yang bisa dimiliki pihak investor tersebut.
Bagaimana dengan Aremania? “Aremania itu tidak bisa dikatakan sebagai asset, karena memang tidak satu paket dengan Arema, dan Aremania tidak bisa dijual. Misalkan Walikota Malang beli Arema, apakah Aremania akan mendukungnya,” jawab Fuad.
Termasuk Bentoel yang beberapa waktu lalu mengelola Arema dan akhirnya dilepas, salah satu faktornya karena Aremania tidak secara signifikan membantu peningkatan hasil penjualan produk-produk pabrik rokok terbesar di Malang itu.
Kini, Arema benar-benar dalam persoalan besar jika tak kunjung mendapatkan investor baru. Setidaknya untuk mengkahiri kompetisi musim ini, manajemen masih punya tanggungan total sekitar Rp 10 miliar.
“Saya kira, saat ini yang penting itu semua pengurus harus duduk bersama, baik pengurus Yayasan maupun Direksi PT Arema Indonesia. Bagaimana investor mau masuk, kalau pengurus Arema gegeran sendiri. Saya tahu, kondisi Arema saat ini memang cukup dilematis,” pungkas Fuad. (bua/nug)
Tawaran terbuka yang dilakukan pengurus Arema, dalam hal ini Presiden Klub Arema, Rendra Kresna beberapa waktu lalu belum mendapatkan respon positif dari para investor. Meski satu nama yaitu Bakrie Grup sudah muncul kepermukaan.
Namun hingga kemarin, tidak ada tanda-tanda Bakrie Grup atau investor yang lain untuk serius melakukan penawaran. Bahkan pengurus Arema pun menjadi tertutup dan tak memberi keterangan apa pun terkait kehadiran investor tersebut.
Sementara batas waktu yang diberikan oleh pengurus Arema itu sendiri adalah Kamis (26/5) nanti. Sehingga tersisa empat hari lagi, sebelum pengurus Arema akhirnya harus berjuang sendiri menghidupi tim berjuluk Singo Edan ini.
Lalu apa yang menyebabkan investor tak kunjung datang? “Saat ini, investor yang akan masuk ke Arema tentunya harus menyiapkan dana dua kali lipat,” ungkap Fuad Ardiansyah, pengusaha yang juga suporter tim Arema ini , kemarin sore.
“Pertama untuk menyelesaikan kompetisi musim ini, kedua menyiapkan dana untuk kompetisi berikutnya. Saya lihat dari kacamata orang bisnis, investor sulit masuk karena masa depan sepakbola Indonesia itu masih suram,” sambungnya.
Kondisi tersebut tak lepas dari persoalan di PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) yang tak kunjung selesai. Kisruh di induk organisasi sepakbola Indonesia itu mengancam adanya sanksi dari otoritas sepakbola dunia, FIFA.
“Hitungannya disitu, dan saya kira semua investor akan berpikir sama, Okelah bisa menolong Arema dalam sebulan ini, tapi bagaimana berikutnya. Misalkan Arema bisa masuk AFC Cup musim depan, apakah musim depan itu bisa main,” jelas Fuad.
“Investor tentu butuh kejelasan soal itu, apalagi saat ini pengurus Arema sendiri juga tidak jelas. Artinya persoalan di internal pengurus Arema itu juga harus segera diselesaikan agar investor bisa masuk,” lanjut Aremania korwil Cili ini.
Tak bisa dipungkiri, konflik internal pengurus memang cukup mempengaruhi masuknya investor. Sebut saja Bakrie Grup yang selama ini diwakili oleh Andi Darussalam Tabusalla mau masuk asalkan manajemen Arema dirombak.
Tidak tanggung-tanggung, Bakrie kabarnya menginginkan perombakan Direksi PT Arema Indonesia dan pengurus Yayasan Arema. Khususnya meminta Ketua Yayasan Arema, Muhammad Nur mundur dari posisinya tersebut.“Jadi kalau ada investor yang mau masuk, sekarang ini mau bicara dengan siapa. Sekarang mungkin Pak Rendra yang sering muncul, tapi kemudian pendapat Pak Nur ternyata berbeda lagi, ini yang susah,” terang Fuad.
Terlepas persoalan internal pengurus tersebut, nilai jual Arema kini mulai dipertanyakan. Khususnya dengan sulitnya investor maupun sponsor besar yang akan bergabung, menyisakan pertanyaan perihal nilai jual tim berlogo kepala Singa ini.
“Ya, sepertinya memang tidak ada yang dijual. Untuk saat ini yang dijual hanya jatah tim Arema main di ISL (Indonesia Super League) itu saja, dan sudah menjadi harga mati, tim Arema tidak bisa keluar dari Malang,” sebut Fuad.
Sehingga siapapun investor atau pihak-pihak yang ingin membeli Arema, tidak bisa membawanya keluar dari Malang. Sementara di Malang, Arema nyaris tak memiliki aset apa pun yang bisa dimiliki pihak investor tersebut.
Bagaimana dengan Aremania? “Aremania itu tidak bisa dikatakan sebagai asset, karena memang tidak satu paket dengan Arema, dan Aremania tidak bisa dijual. Misalkan Walikota Malang beli Arema, apakah Aremania akan mendukungnya,” jawab Fuad.
Termasuk Bentoel yang beberapa waktu lalu mengelola Arema dan akhirnya dilepas, salah satu faktornya karena Aremania tidak secara signifikan membantu peningkatan hasil penjualan produk-produk pabrik rokok terbesar di Malang itu.
Kini, Arema benar-benar dalam persoalan besar jika tak kunjung mendapatkan investor baru. Setidaknya untuk mengkahiri kompetisi musim ini, manajemen masih punya tanggungan total sekitar Rp 10 miliar.
“Saya kira, saat ini yang penting itu semua pengurus harus duduk bersama, baik pengurus Yayasan maupun Direksi PT Arema Indonesia. Bagaimana investor mau masuk, kalau pengurus Arema gegeran sendiri. Saya tahu, kondisi Arema saat ini memang cukup dilematis,” pungkas Fuad. (bua/nug)