Yayasan Arema Indonesia optimistis timnya bisa menjadi kampiun Liga Super Indonesia 2009-2010 walau hingga kini tim kebanggaan warga Malang Raya itu masih mengalami krisis keuangan.
Optimisme dipasang tinggi merujuk pada keberhasilan Arema yang untuk sementara menjadi pemuncak klasemen Liga Super dengan 48 poin dari 22 pertandingan (15 kali menang, 3 kali seri, dan 4 kali kalah). Padahal, beberapa kali Arema dibelit masalah serius.
Tempo mencatat Arema dua kali dihukum Komisi Disiplin, ancaman mundur pelatih dan beberapa pemain, mundurnya Rendra Kresna dari jabatan manajer, ketegangan antara Pelatih Robert Alberts dengan kiper utama Markus Horison yang nyaris berbuntut mogok massal pemain, dan terakhir mundurnya Direktur Utama PT Arema Indonesia Gunadi Handoko. Gunadi mengundurkan diri pada Selasa (9/3) malam.
“Arema itu tim yang aneh, makin banyak masalah tapi mainnya makin bagus,” kata Rendra Kresna, yang kini menjadi Presiden Kehormatan PT Arema Indonesia merangkap bendahara yayasan. Sedangkan jabatan manajer sementara dipercayakan pada Mudjiono Mudjito merangkap sekretaris yayasan.
Rendra menyampaikan isi kantong Arema hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional kompetisi dan gaji pemain hingga Maret ini bersamaan habisnya kucuran dana Rp 7,5 miliar dari Bentoel selaku sponsor utama. Alhasil, manajemen harus mencari dana mandiri agar pelatih dan pemain, serta kerabat kerja lainnya, bisa tetap digaji hingga akhir kompetisi. Liga Super dijadwalkan berakhir pada Mei mendatang.
Wakil Bupati Malang itu menambahkan, seluruh pendapatan yang bisa didapat lagi nantinya berasal berasal dari penjualan tiket enam laga kandang berikutnya yakni melawan Persela Lamongan, Pelita Jaya, Persijap Jepara, Persitara Jakarta Utara, Persisam Samarinda, dan Bontang FC. Namun, pemasukan dari enam pertandingan kandang ini diperkirakan belum dapat menutupi seluruh kebutuhan biaya yang sekitar Rp 6 miliar.
Idealnya, untuk menjalani satu kompetisi kantong Arema harus berisi sekitar Rp 20 miliar. Sebagian dana dapat diatasi dengan uang Bentoel, ditambah hasil dari penjualan tiket dan sponsor hingga akhir 2009 berkisar Rp 6,5 miliar—sekitar Rp 4,5 miliar dari penjualan tiket. Kekurangannya itu yang bikin pusing PT Arema Indonesia selaku pihak yang paling bertanggung jawab mencarikan dananya.
PT Arema Indonesia sudah berusaha keras dan berkreasi untuk mendapatkan banyak dana segar, antara lain, bekerja sama dengan toko-toko suvenir dan atribut khas Arema, dan terakhir menggandeng Telkom Flexi. Bahkan, wartawan peliput Arema sampai melakukan penggalangan dana untuk Arema.
Sebelum meninggalkan jababatan direktur utama, Gunadi Handoko sendiri pernah menyampaikan kepada Tempo bahwa timnya sebagai tim yang unik. Arema bak tim yang “dikutuk” untuk selalu mendapat masalah.
Gunadi membantah pengunduran dirinya dipicu ketidaksanggupan dirinya mencarikan dana operasional. Apalagi janji melunasi kewajiban pembayaran sisa uang muka kontrak dan gaji kepada pelatih dan sekitar 12 pemain belum seluruhnya ditepati. Pada 23 Desember 2009, misalnya, Robert Alberts justru mengancam mengundurkan diri gara-gara masalah itu. Pada awal Februari lalu Robert juga mengancam mengundurkan diri jika manajemen tetap mempertahankan Markus Horison yang dipecatnya.
Gunadi menegaskan, ia mengundurkan diri agar bisa berkonsentrasi mengurusi keluarga dan pekerjaan utamanya sebagai pengacara. Keinginan mundur sudah ia sampaikan pada putaran pertama tapi masih ditolak yayasan.
“Waktu saya bersama keluarga sangat banyak tersita. Tapi saya tetap di Arema dan saya yakin ke depannya Arema bisa lebih bagus lagi,” ujar Gunadi, yang kini duduk sebagai Wakil Presiden Kehormatan PT Arema Indonesia.
Hingga saat ini tim telah menghabiskan dana sekitar Rp 11,5 miliar. Agar keuangan Arema aman, minimal ada uang segar di kantong sebesar Rp 17,5 miliar atau maksimal Rp 20 miliar. Ia optimistis kekurangan Rp 6 miliar dapat diatasi dalam tiga bulan ke depan atau sampai kompetisi berakhir.
Gunadi memberitahu, hingga sekarang manajemen masih berutang total sekitar Rp 500 juta kepada dua pemain asing (Pierre Njanka dan Chamelo Roman) dan empat pemain lokal. Semuanya sisa uang kontrak yang belum lunas.
ABDI PURMONO