
Setelah menerima kepengurusan PSSI pimpinan Ketua Umum Djohar Arifin Husin, Senin 9 April 2012 lalu, kini giliran PSSI versi KLB yang ditemui Menpora di Kantor Kemenpora, Jakarta.
Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut membicarakan masalah dualisme pengurus dan kompetisi. La Nyalla menegaskan pihaknya menyampaikan hasil KLB yang berlangsung di Hotel Mercure, Ancol, 18 Maret lalu.
"Semuanya sudah kami jelaskan kepada Pak Menteri. Bahwa kami terpilih oleh 81 voter yang merupakan voter di KLB Solo. Kami juga membicarakan dualisme kompetisi. Saya bilang ke Pak Menpora kalau satu-satunya jalan pembentukan Timnas bukan dikelola oleh Djohar Arifin Husin, karena klub-klub ISL sudah tidak mau bergabung dengan IPL," ujar La Nyalla usai pertemuan.
Sementara itu Menpora Andi Malarangeng menegaskan pihaknya hanya akan mengakui kepengurusan PSSI yang diakui oleh FIFA, dalam hal ini PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin. Namun, jika nantinya FIFA mengakui PSSI pimpinan La Nyalla, maka pemerintah akan mengikuti keputusan tersebut.
"Kalau FIFA mengubah keputusan, maka kami akan menyesuaikan diri. Kebetulan dalam waktu dekat ada tim Task Force dari AFC yang akan datang ke Indonesia. Nantinya tim tersebut akan memberi keterangan ke rapat Exco FIFA. Jika tim Task Force memutuskan mana yang benar, kami menuruti saja," papar Menpora.
Pembentukan tim Task Force dari AFC dibentuk dengan tujuan untuk memfasilitasi resolusi masalah yang dihadapi sepakbola lndonesia sebelum tenggat waktu FIFA pada 15 Juni mendatang. Tim Task Force beranggotakanWakil Presiden AFC, HRH Prince Abdullah Ibnu Sultan Ahmad Shah, anggota Exco AFC dan FIFA, Datuk Worawi Makudi, Sekretaris Jendral AFC, Datuk Alex Soosay, dan hubungan internasional AFC, James Johnson.
