Persegres Gresik di tangan pelatih anyar Abdurrahman Gurning ternyata
tambah parah. Baru melakoni empat laga di putaran kedua Indonesia Super
League (ISL), klub berjuluk Laskar Joko Samudro itu sudah menelan tiga
kali kekalahan. Rekor yang lebih jeblok dibandingkan saat ditangani
Freddy Muli pada putaran pertama lalu.
Apesnya, kekalahan yang juga untuk ketiga kali di musim ini dituai Persegres di depan pendukungnya sendiri. Persegres secara memalukan dipecundangi tamunya PSPS Pekanbaru 0-1 dalam pertandingan lanjutan ISL di stadion Petrokimia Gresik, sore kemarin (26/4).
April Hadi menjadi mimpi buruk Persegres. Satu-satunya gol pemain senior PSPS itu lahir beberapa saat sebelum peluit berakhirnya babak pertama dibunyikan. Gol itu terjadi memanfaatkan tendangan pojok Patrice Nzekou, April yang tak terkawal dapat dengan mudah menyudul bola ke gawang Persegres.
Kontan saja, hasil yang mengecewakan ini langsung membuat manajemen Persegres merapatkan diri. Evaluasi awal dilakukan seusai pertandingan. Hasilnya, manajemen memberikan peringatan keras untuk pertama kalinya kepada pemain maupun Gurning terkait hasil buruk kemarin.
Dihubungi malam tadi, manajer Persegres Thoriq Majiddanor tidak menginginkan hasil buruk mampir lagi ke klubnya. "Kami akan melihat bagaimana perkembangan kinerja pemain maupun pelatih selama tiga pertandingan ke depan. Setelah itu baru kami akan lakukan evaluasi menyeluruh secara besar-besaran," ujar Jiddan, sapaan akrabnya.
Disinggung terkait masa depan Gurning di Persegres, dia enggan berbicara banyak. Menurutnya, hal itu belum masuk dalam agenda pembicaraan manajemen. "Untuk sementara kami masih berpikir bagaimana caranya membenahi kinerja tim dulu," imbuh Jiddan.
Senada dengan manajemen, Ultras - sebutan kelompok pendukung Persegres - juga menyesalkan hasil negatif tersebut. Mereka menganggap dua kali kekalahan di kandang putaran pertama lalu harusnya tidak diulang lagi oleh Persegres.
"Karena kami ini suporter, kami hanya ingin tim ini menangan. Minimal di kandang sendiri," kecam ketua umum Ultras Ludiono.
Permainan Lan Bastian Balatas dkk yang berbanding terbalik 180 derajat seperti saat mengalahkan Persija Jakarta (22/4) menjadi sorotan tajam Ultras. Logikanya, jika menghadapi klub yang lebih kuat saja bisa menang, Persegres harusnya bisa menang dari PSPS.
"Kami tidak tahu apakah pemain meremehkan PSPS atau memang kondisi tim yang tidak lengkap dengan absennya Uston (Nawawi)," ujar Ludiono. Dia berharap kekalahan ini menjadi yang terakhir bagi Persegres. Dia tidak mau kekalahan ini terulang kembali. "Kalau untuk evaluasinya, terserah manajemennya saja," imbuh Ludiono.
Kekalahan dari PSPS ini menjadi yang ke-12 bagi Persegres. Dengan mengantongi 23 poin, posisi Persegres di peringkat 13 belum aman. Mereka bisa saja terlempar ke zona degradasi. Sebab, beberapa tim di bawahnya kebanyakan masih bermain 20 kali. Selisih poinnya pun hanya berkisar satu sampai dua poin saja. (ren/upi)
Apesnya, kekalahan yang juga untuk ketiga kali di musim ini dituai Persegres di depan pendukungnya sendiri. Persegres secara memalukan dipecundangi tamunya PSPS Pekanbaru 0-1 dalam pertandingan lanjutan ISL di stadion Petrokimia Gresik, sore kemarin (26/4).
April Hadi menjadi mimpi buruk Persegres. Satu-satunya gol pemain senior PSPS itu lahir beberapa saat sebelum peluit berakhirnya babak pertama dibunyikan. Gol itu terjadi memanfaatkan tendangan pojok Patrice Nzekou, April yang tak terkawal dapat dengan mudah menyudul bola ke gawang Persegres.
Kontan saja, hasil yang mengecewakan ini langsung membuat manajemen Persegres merapatkan diri. Evaluasi awal dilakukan seusai pertandingan. Hasilnya, manajemen memberikan peringatan keras untuk pertama kalinya kepada pemain maupun Gurning terkait hasil buruk kemarin.
Dihubungi malam tadi, manajer Persegres Thoriq Majiddanor tidak menginginkan hasil buruk mampir lagi ke klubnya. "Kami akan melihat bagaimana perkembangan kinerja pemain maupun pelatih selama tiga pertandingan ke depan. Setelah itu baru kami akan lakukan evaluasi menyeluruh secara besar-besaran," ujar Jiddan, sapaan akrabnya.
Disinggung terkait masa depan Gurning di Persegres, dia enggan berbicara banyak. Menurutnya, hal itu belum masuk dalam agenda pembicaraan manajemen. "Untuk sementara kami masih berpikir bagaimana caranya membenahi kinerja tim dulu," imbuh Jiddan.
Senada dengan manajemen, Ultras - sebutan kelompok pendukung Persegres - juga menyesalkan hasil negatif tersebut. Mereka menganggap dua kali kekalahan di kandang putaran pertama lalu harusnya tidak diulang lagi oleh Persegres.
"Karena kami ini suporter, kami hanya ingin tim ini menangan. Minimal di kandang sendiri," kecam ketua umum Ultras Ludiono.
Permainan Lan Bastian Balatas dkk yang berbanding terbalik 180 derajat seperti saat mengalahkan Persija Jakarta (22/4) menjadi sorotan tajam Ultras. Logikanya, jika menghadapi klub yang lebih kuat saja bisa menang, Persegres harusnya bisa menang dari PSPS.
"Kami tidak tahu apakah pemain meremehkan PSPS atau memang kondisi tim yang tidak lengkap dengan absennya Uston (Nawawi)," ujar Ludiono. Dia berharap kekalahan ini menjadi yang terakhir bagi Persegres. Dia tidak mau kekalahan ini terulang kembali. "Kalau untuk evaluasinya, terserah manajemennya saja," imbuh Ludiono.
Kekalahan dari PSPS ini menjadi yang ke-12 bagi Persegres. Dengan mengantongi 23 poin, posisi Persegres di peringkat 13 belum aman. Mereka bisa saja terlempar ke zona degradasi. Sebab, beberapa tim di bawahnya kebanyakan masih bermain 20 kali. Selisih poinnya pun hanya berkisar satu sampai dua poin saja. (ren/upi)

