
Pelatih Persipura Jayapura, Jacksen F Tiago mengatakan, adanya kabar yang menyebutkan jika dua pemain Mutiara Hitam, Boaz Solossa dan Richardo Salampessy mangkir dari latihan timnas Senior adalah kabar yang benar. Sebab keduanya sudah terlebih dahulu meminta ijin kepada
“Boaz berada di Sorong untuk menjenguk keluarganya. Apalagi istrinya lagi mengandung, sedangkan Ricardo berada di Jayapura. Mereka sebelumnya telah meninta ijin dan tidak bisa bergabung dengan timnas karena masih kelelahan usai melakoni pertandingan AFC melawan Arbil SC lalu” kata Jacksen F Tiago, Kamis 5 Oktober.
Menurutnya, wajar jika kedua pemain Mutiara Hitam itu meminta ijin karena baru saja melakoni laga dan perjalanan yang cukup melelahkan bersama Persipura dilaga Asian Football Confederation (AFC) lalu sehingga butuh istirahat yang cukup.
“Sebagai saya juga melakukan hal yang sama. Sekembalinya tim dari Irak lalu, saya langsung mengistirahatkan para pemain untuk menjaga kebugaran dan fisik mereka. Saya pikir pemain juga butuh istirahat. Saya harap Boaz dan Richardo baik-baik saja,” ujarnya.
Sementara itu seperti diberitakan sejumlah media nasional beberapa hari lalu, perbedaan pendapat justru terjadi dikalangan pengurus timnas. Koordiator Timnas, Bob Haippy mengatakan jika kedua pemain Persipura itu sudah meminta ijin tidak bisa bergabung dengan rekan-rekannya karena masih kelelahan usai bermain di AFC.
“Mereka sudah menghubungi saya dan mengatakan meminta izin untuk istirahat usai melakoni dua kali laga berat di AFC. Apalagi waktu libu mereka lebih sedikit dibanding pemain timnas yang lain. Dan saya mengijinkannya,” kata Bob Hippy.
Selain itu dikatakannya, meski keduanya tidak bisa bergabung, namun tidak aka nada sanksi untuk Boaz dan Richardo. Namun komentar berbeda justru diungkapkan Penanggungjawab timnas, Bernhard Limbong. Menurutnya PSSI bakal menjatuhkan sanksi kepada Boaz dan Richardo jika tak juga bergabung dengan timnas.
“Pasti ada sanksinya. Harus ada efek jera aga setiap pemain nantinya tahu mana perbuatan yang baik dan tidak,” kata Bernhard Limbong Sikap berbeda yang ditunjukkan para pengurus PSSI ini justru seolah menggambarkan adanya ketidak kompakan didalam organisasi tertinggi sepak bola tanah air itu. (ARJUNA)
“Boaz berada di Sorong untuk menjenguk keluarganya. Apalagi istrinya lagi mengandung, sedangkan Ricardo berada di Jayapura. Mereka sebelumnya telah meninta ijin dan tidak bisa bergabung dengan timnas karena masih kelelahan usai melakoni pertandingan AFC melawan Arbil SC lalu” kata Jacksen F Tiago, Kamis 5 Oktober.
Menurutnya, wajar jika kedua pemain Mutiara Hitam itu meminta ijin karena baru saja melakoni laga dan perjalanan yang cukup melelahkan bersama Persipura dilaga Asian Football Confederation (AFC) lalu sehingga butuh istirahat yang cukup.
“Sebagai saya juga melakukan hal yang sama. Sekembalinya tim dari Irak lalu, saya langsung mengistirahatkan para pemain untuk menjaga kebugaran dan fisik mereka. Saya pikir pemain juga butuh istirahat. Saya harap Boaz dan Richardo baik-baik saja,” ujarnya.
Sementara itu seperti diberitakan sejumlah media nasional beberapa hari lalu, perbedaan pendapat justru terjadi dikalangan pengurus timnas. Koordiator Timnas, Bob Haippy mengatakan jika kedua pemain Persipura itu sudah meminta ijin tidak bisa bergabung dengan rekan-rekannya karena masih kelelahan usai bermain di AFC.
“Mereka sudah menghubungi saya dan mengatakan meminta izin untuk istirahat usai melakoni dua kali laga berat di AFC. Apalagi waktu libu mereka lebih sedikit dibanding pemain timnas yang lain. Dan saya mengijinkannya,” kata Bob Hippy.
Selain itu dikatakannya, meski keduanya tidak bisa bergabung, namun tidak aka nada sanksi untuk Boaz dan Richardo. Namun komentar berbeda justru diungkapkan Penanggungjawab timnas, Bernhard Limbong. Menurutnya PSSI bakal menjatuhkan sanksi kepada Boaz dan Richardo jika tak juga bergabung dengan timnas.
“Pasti ada sanksinya. Harus ada efek jera aga setiap pemain nantinya tahu mana perbuatan yang baik dan tidak,” kata Bernhard Limbong Sikap berbeda yang ditunjukkan para pengurus PSSI ini justru seolah menggambarkan adanya ketidak kompakan didalam organisasi tertinggi sepak bola tanah air itu. (ARJUNA)
