Share |

ISL Bukan Kompetisi Tandingan


Keinginan 13 klub untuk tetap menggulirkan kompetisi Indonesian Super League (ISL) di bawah regulator PT. Liga Indonesia sepertinya susah untuk diabaikan begitu saja oleh PSSI sebagai otoritas sepak bola Tanah Air. Sudah jelas, petentangan tersebut muncul ketika CEO Meeting di Hotel Ambara, Jakarta, 13Oktober lalu. Pemaksaan ambisi PSSI melalui Ketua Komite Kompetisi, Sihar Sitorus yang berkeinginan untuk menggelar kompetisi kasta tertinggi Indonesian Premier League (IPL) di bawah pengelola PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), serta merta menjadi alasan terpecahnya kongsi menjadi dua kubu.

Ya, saat itu Kelompok 14 (K-14) yang terdiri dari klub-klub ISL musim lalu memprotes keras kebijakan PSSI yang memaksa mengelar IPL dengan diikuti 24 klub. Pasalnya, kebijakan PSSI tersebut sudah jelas-jelas bertentangan dengan statuta PSSI itu sendiri, dan juga melanggar amanah keputusan tertinggi dari Kongres PSSI di Bali yang menetapkan ISL di bawah PT LI adalah kompetisi kasta tertinggi yang resmi dan diikuti sebanyak 18 klub.

Dengan pecahnya kongsi PSSI ini, membuat suasana terus memanas. Melalui kesepakatan sebelumnya, dimana PT LI yang berkomitmen pada hasil kongres dengan pembagian saham sebesar 99 persen untuk klub dan 1 persen kepada PSSI. Pada Minggu (23/10) mereka melakukan pertemuan untuk menggelar pra RUPS (rapat umum pemegang saham) bertempat di Park Lane Hotel, Jakarta, yang dihadiri sebanyak 13 klub.

“Kami hanya menggelar pra RUPS saja, karena RUPS sesungguhnya baru akan berlangsung pada 27 Oktober nanti,” kata Ketua Umum Persiba H.Syahril HM Taher, salah satu motor 13 klub.

Diterangkan Syahril, sekalipun belum ada keputusan terkait dengan RUPS tersebut. Pada dasarnya 13 klub Superliga ini tetap bersikukuh pada pendiriannya semula, untuk tetap menggulirkan ISL di bawah PT Liga Indonesia.

“Kalau terkait kompetisi, bagaimana pun kami tetap berkomitmen untuk menggulirkan ISL bersama PT LI. Karena inilah yang memang sesuai dengan statuta dan hasil Kongres PSSI di Bali lalu. Bukan berarti keinginan kami berkompetisi di ISL ini lantas disebut sebagai kompetisi tandingan, karena kami berjalan sesuai aturan dan akan tetap minta restu PSSI,” jelas Syahril kepada Balikpapan Pos, kemarin (25/10).

Meski kompetisi bentukan PSSI di bawah komando Djohar Arifin Husein juga bersikeras menggulirkan IPL bersama PT LPIS, lanjut Syahril, itu bukan halangan untuk tidak menggelar ISL. “Walau PT. LPIS yang akan menggulirkan IPL mengundang kami untuk registrasi klub dengan batas waktu 26 Oktober nanti, kami tegaskan tidak akan menghadiri undangan LPIS tersebut. Kecuali jika PSSI yang mengundang kami, baru kami akan hadir. Tapi jika LPIS pasti kami abaikan,” terang bapak dua anak ini.

Meskipun K-13 memenuhi undangan PSSI, tidak berarti mereka menuruti kemauan PSSI untuk bergabung di IPL. “Kami ingin yang sesuai statute dan hasil kongres. IPL tetap kami tentang, karena sudah jelas-jelas salah, ” beber Syahril lagi.

Syahril menegaskan, K-13 menolak IPL dan LPIS. “Kami sebagai pengurus Persiba meminta maaf kepada masyarakat Balikpapan, jika dirasa Persiba salah karena menentang keputusan PSSI. Semua yang kami lakukan bersama klub-klub Superliga lainnya, bukanlah tanpa dasar. Kami menentang PSSI karena ingin PSSI berada di jalur yang benar,” tegas Syahril yang sudah diplot sebagai calon tunggal Direktur Utama PT LI bersama Harbiansyah Hanafiah (Presiden Direktur Persisam Putra Samarinda) sebagai komisaris utama PT LI.

Perbincangan menarik terkait kisruh PSSI tersebut dipastikan bakal menarik. Sebagaimana disampaikan langsung oleh Syahril, dirinya bersama perwakilan ISL lainnya dan kemungkinan perwakilan IPL dan PSSI akan hadir dalam acara yang digagas TVOne bertajuk Jakarta Lawyers Club (JLC), Selasa (25/10) malam ini.

(san)
Share on Google Plus

About 12paz