Share |

Hantu Cedera Membayangi Pemain Musim Depan


Masih ingat tragedi kematian gelandang PKT Bontang Jumadi Abdi atau Eri Irianto,gelandang Persebaya.Kedua pemain sepak bola itu meninggal tragis di lapangan sesaat setelah membela timnya.

Jumadi Abdi meninggal dunia pada Maret 2009 setelah berbenturan dengan pemain Persela Lamongan.Nyawanya tidak tertolong karena mengalami pecah usus halus yang berakibat hilangnya fungsi multiorgan.Eri Irianto,gelandang Persebaya era 1990-an, tergelepar di lapangan sebelum tutup usia. Dua kematian pemain itu bisa menjadi gambaran betapa kerasnya roda kompetisi sepak bola di negeri ini.Belum lagi sejumlah pemain yang harus gantung sepatu karena cedera.

Bagi seorang atlet,apalagi pemain sepak bola,mengalami cedera hingga kematian memang sudah menjadi risiko. Kini bayang-bayang badai cedera bakal menghantam pemain musim depan semakin terasa setelah PSSI menerapkan 24 klub peserta Liga Super Indonesia (LSI).Apa hubungannya? Meski PSSI belum merilis jadwal resmi,sudah hampir dipastikan jika PSSI bertahan pada keputusannya,para pemain harus bersiap memeras keringat lebih banyak. Pasalnya,kompetisi bakal berlangsung lebih dari setahun dan setiap melakukan pertandingan sebanyak 46 laga.

Menurut dokter tim Deltras dr Atok, risiko cedera memang bakal lebih besar bakal dialami pemain musim depan karena jumlah pertandingan lebih banyak.”Saya belum tahu dalam sepekan setiap tim harus main berapa kali.Yang pasti tetap akan menguras tenaga pemain.Tingkat kejenuhan juga akan berpengaruh pada psikologi pemain yang berdampak pada pertandingan maupun latihan,”katanya. Idealnya,jika melihat letak geografis Indonesia dan rata-rata kondisi VO2Max, para pemain dalam sepekan hanya sekali pertandingan.

”Musim lalu rata-rata dua kali pertandingan dalam seminggu saja sudah banyak yang cedera.Apalagi menghadapi perjalanan berat seperti di Jayapura.Setiap tim harus mengubah formasi saat lawan Persipura dan Persiwa karena kondisi fisik pemain sudah turun karena perjalanan,”ucapnya. Solusi dengan jumlah pertandingan sebanyak itu,seharusnya setiap tim memiliki lebih dari 30 pemain.Ini dilakukan agar pemain bisa dirotasi.”Dengan jadwal padat,satu-satunya cara memang dengan rotasi pemain.Itu membutuhkan tambahan pemain dan tergantung keputusan pelatih dan manajemen.Dari sisi kesehatan memang rawan cedera,”ungkapnya.

Hal senada juga diucapkan dokter tim Persebaya dr Heri Siswanto.Selama pengalamannya bersama dengan tim berjuluk Bledug Ijo itu, banyak penyebab pemain mengalami cedera.Mulai buruknya lapangan, pembebanan latihan yang berlebihan (overload),teknik yang dilakukan salah, body contact,kurangnya pemanasan (warming-up),ketidakmampuan persendian dalam menahan berat badan.”Banyak faktor pemain bisa cedera,tapi pemain sepak bola memang termasuk tinggi risiko cederanya karena ada body contact,” paparnya.

Dari sekian banyak faktor pemain cedera,kondisi psikologi pemain dan berkurangnya daya tahan tubuh akibat kelelahan bakal menambah parah risiko cedera.”Jika kondisi fisik sudah kelelahan, berbagai faktor penyebab cedera itu bisa terjadi setiap saat,baik di latihan maupun pertandingan,”katanya. Dari sisi medis,banyaknya pertandingan di Liga Super musim depan membuat pemain dihantui badai cedera.Padahal,napas kompetisi adalah melindungi pemain dari bahaya cedera maupun risiko paling tinggi kematian.

” Muara dari kompetisi tentu melahirkan pemain berkualitas untuk timnas Indonesia. Tetapi,kalau patah kaki semua,siapa yang bermain untuk timnas,”pungkas Yudha Pratama, Manajer Deltras. rachmad tomy
Share on Google Plus

About 12paz