
Tim Arema Indonesia terancam bubar setelah ditinggal banyak pemain. Mayoritas pemain hengkang ke klub lain karena mereka merasa tak mendapat kepastian dan kenyamanan dari dua manajemen Arema yang bertikai, antara kubu Rendra Kresna dan Muhamad Nur. “Kami sebenarnya tak memihak yang mana pun. Kami cinta Arema dan Aremania. Tapi kami tak punya pilihan, kami sangat bingung, merasa tak pasti dan tak nyaman di tengah keruwetan seperti ini,” ujar seorang pemain belakang , Senin siang, 3 Oktober 2011. Hal senada disampaikan seorang pemain. Bahkan, lewat pesan pendek, sang pemain terpaksa hengkang ke salah klub di Jawa Timur karena mendapat teror lewat telepon dari Aremania, fans Arema. Orang itu menelepon ke rumahnya segala. “Keluarga saya jadi panik. Tahun ini saya tak di Arema dulu. Saya main bola kepengin tenang. Nanti kalau kondisinya sudah normal, saya kembali (ke Arema). Maaf dan terima kasih untuk Aremania seluruhnya,” kata dia. Sebanyak 14 pemain dikabarkan eksodus ke klub lain. Tujuh pemain hijrah ke Deltras Sidoarjo (Mochammad Fakhrudin, Purwaka Yudhi, Waluyo, Juan Revi Auriqto, Benny Wahyudi, Ahmad Amiruddin, dan Saktiawan Sinaga). Zulkifli Syukur dan Hendra Ridwan hengkang ke Persib Bandung. Dua kiper bersaudara, Ahmad Kurniawan dan Kurnia Meiga Hermansyah, berlabuh di Pelita Jaya. Ahmad Bustomi dan Arif Suyono pun pamit ke Mitra Kutai Kertanegara. Sedangkan Tomy Pranata dan Irfan Raditya masing-masing memperkuat Persema Malang dan PSMS Medan. Kubu Muhammad Nur menolak berkomentar. Sebaliknya, kubu Rendra Kresna merasa paling dirugikan. Menurut juru bicara kubu Rendra, Sudarmaji, pemain tak bisa disalahkan. Eksodusnya banyak pemain merupakan dampak buruk dari keputusan PSSI yang memenangkan kubu Muhamad Nur. “Keputusan PSSI tak solutif, karena bukannya menyatukan, tapi justru membuat perpecahan. Kami yang sangat dirugikan karena kami sudah menyiapkan tim dan kebutuhan lainnya sejak beberapa bulan lalu,” kata Sudarmaji. Untuk memastikan kabar hengkangnya para pemain, menurut Sudarmaji, pada Senin pagi Sekretaris Tim Muhammad Taufan memanggil 14 pemain ke mes pemain di Jalan Welirang, Kota Malang. Empat pemain lagi tak dipanggil karena mereka pemain tim nasional yang terikat prakontrak dengan manajemen. “Kenyataannya, hanya Dian Agus (Prasetyo), Roman Chmelo dan Roman Golian (dua pemain asal Slovakia), yang hadir. Sedang pemain lainnya tidak hadir tanpa penjelasan,” kata bekas wartawan itu. Kendati begitu, manajemen Arema yang dikendalikan tiga pembina yayasan—Rendra Kresna (Bupati Malang), Eddy Rumpoko (Wali Kota Batu), dan Iwan Kurniawan (bos PT Anugerah Citra Abadi)— menginstruksikan pada tim pelatih untuk tetap menggelar latihan rutin demi persiapan menuju kompetisi kasta tertinggi musim 2011-2012 yang dijadwalkan digelar mulai 15 Oktober mendatang. Kepada semua pemain yang sudah menandatangani perjanjian prakontrak dengan manajemen pada Agustus sampai September lalu harus membuat surat pengunduran diri, termasuk mengembalikan dana yang sudah mereka terima. Informasi yang diterima , para pemain yang akan dikontrak di bawah Rp 500 juta menerima uang muka antara Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Sedangkan yang akan dikontrak di atas Rp 500 juta menerima persekot antara Rp 30 juta sampai Rp 50 juta per orang. “Jika tidak, manajemen akan menempuh jalur hukum. Bagi pemain yang ingin bertahan, kami ucapkan penghargaan setinggi-tingginya dan dipersilakan mengikuti latihan,” kata Sudarmaji tanpa menyebut persisnya upaya hukum yang ingin ditempuh. Selain itu, manajemen Arema versi Rendra sedang mengupayakan jalur hukum untuk menyikapi keputusan PSSI yang memenangkan kubu Muhamad Nur. Jika sampai tenggat pendaftaran pemain ditutup dan upaya manajemen belum berhasil, maka pemain dibebaskan untuk mencari klub lain. ABDI PURMONO
