
Persipura Jayapura menolak bekas klub Liga Primer Indonesia bergabung di Liga Profesional yang telah diubah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Klub baru dinilai tidak melewati jenjang yang selama ini sudah menjadi bagian dari persepakbolaan Tanah Air. “Ini sama saja dengan tidak menghargai apa yang selama ini dibuat. Banyak klub harus bersusah payah dari divisi satu dan masuk ke divisi utama, tapi kemudian klub baru yang terbentuk di LPI langsung dengan mudah mau gabung dengan liga tertinggi Indonesia yang penting ada uang. Ini tentu tidak bijak,” kata Anton Imbenay, Asisten Manajer Persipura Jayapura, Ahad, 7 Agustus 2011. Menurutnya, sistem berjenjang merupakan yang terbaik karena memberi peluang tiap tim berkompetisi dari level bawah. “Persoalannya bukan pada uang, tapi soal kemajuan sepak bola. Jika klub baru dari LPI bergabung, pasti akan muncul gejolak baru,” ujarnya. Gagasan PSSI membuat format liga baru dilontarkan pada Rabu, 3 Agustus kemarin, di Jakarta. Sederhananya, PSSI membuka kesempatan sama besarnya bagi klub ISL, LPI, dan Divisi Utama untuk berkompetisi musim depan asalkan memenuhi syarat finansial, infrastruktur, sumber daya manusia, juga dukungan suporter. Masalah baru dipastikan akan timbul bila saja satu atau lebih klub LPI lolos. “Dan itu sudah pasti, ada klub yang baru terbentuk baru setahun, ini akan sulit diterima tim lama yang sudah menguras banyak tenaga, pikiran, dan uang. Saya kira perlu ditinjau kembali format tersebut,” pungkasnya. Klub LPI yang baru terbentuk, misalnya Cenderawasih Papua yang sudah memastikan diri akan mengikuti Liga Profesional, juga PSM Makassar, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan Persebaya 1927. “Kami bukan cemburu, tapi harusnya klub-klub itu mengikuti level. Saya bukan mau bilang divisi utama lebih baik dari mereka, tapi mereka harus sadar sendiri dan menghargai format kompetisi sebelumnya,” pungkasnya. JERRY OMONA
