
Pelatih Persiraja Herry Kiswanto mencukur habis rambut bersama dengan Pelatih Kiper Sisgiardi di Solo, Jawa Tengah, Senin (23/5). Aksi mencukur rambut secara sembunyi-sembunyi ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan Persiraja lolos ke Indonesia Super League (ISL) atau Liga Super Indonesia (LSI) musim 2011/2012.
Tiket promosi ‘Lantak Laju’ itu digenggam setelah mengalahkan Mitra Kukar Kutai Kartanegara dari Kalimantan Timur 1-0 pada tarung semifinal di Stadion Manahan, Solo, Minggu (22/5) malam. Di partai final, Rabu (25/5) malam nanti, ‘Laskar Rencong’ akan bersua Persiba Bantul, Yogyakarta yang sukses membemam Persidafon Dafonsoro, Papua 5-2 pada pertarungan babak empat besar.
aksi cukur rambur Herry Kiswanto atau yang akrab disapa Kang Herry dan Sisgiardi memang sangat tersembunyi. Terbukti, saat keduanya memasuki penginapan di
Hotel Indah Palace, Solo, Senin (23/5) siang, penampilan kepala plontos mereka sempat membuat sejumlah pemain dan ofisial tim terheran-heran. menelusuri kejadian unik ini, mendapatkan jawaban kalau keinginan untuk mencukur rambut sudah direncanakan keduanya setelah Persiraja memastikan diri lolos ke semifinal. “Awalnya, ide mencukur rambut ini setelah Persiraja lolos ke semifinal di Papua. Saya bilang ke Sis (Sisgiardi-red), kalau kita lolos ke Liga Super nanti cukur rambut mau?” cerita Kang Herry. Menurut Kang Herry, ide dirinya itu mendapat apresiasi tinggi dari Sisgiardi. “Saat saya ajak, dia (Sis-red) langsung menjawab ‘Ayo siapa takut’. Tapi, saya minta dia jangan bilang siapa-siapa,” ungkap Herry Kiswanto.
Atas kesepakatan bersama, ide tersebut akhirnya tersimpan rapat mengingat keduanya kebagian tidur dalam satu kamar sejak di Papua hingga berlabuh di Solo. Puncaknya, sehari setelah Persiraja memastikan diri promosi ke Liga Super Indonesia berkat gol tunggal Fahrijal Dillah di laga semifinal, Minggu (22/5) malam, keduanya melaksanakan ide mereka mencukur habis rambut mereka. “Karena kita berhasil lolos ke Liga Super, maka pagi harinya kami pergi berdua untuk mencukur rambut,” beber Kang Herry, di ruang makan hotel penginapan.
Di sisi lain, arsitek Persiraja ini menceritakan, bahwa aksi cukur rambut pernah juga dilakukannya saat Bandung Raya menjuarai kompetisi Liga Indonesia tahun 1996. Kala itu, dirinya menjadi asisten pelatih dan merangkap pemain. Sama seperti sekarang, kala itu dia juga menantang para pemain untuk mencukur rambut bila Bandung Raya mampu menjuarai Liga Indonesia. “Akhirnya, setelah Bandung Raya juara, maka saya dan semua pemain mencukur rambut sampai botak,” kenang Kang Herry sambil tertawa.
Saat ditanya apakah dirinya akan kembali mengajak pemain Persiraja untuk mencukur rambut bila meraih gelar juara nanti, pelatih kelahiran Banda Aceh ini menyatakan, dirinya tidak meminta atau mengajak para pemain untuk mencukur rambut. Menurut dia, puncak dari perjalanan Persiraja adalah lolos ke Liga Super.
“Puncaknya adalah kemarin (Minggu malam-red) karena semua tim ingin lolos Liga Super. Kalau final dan juara, terserah anak-anak mau potong rambut atau tidak. Tapi yang penting, sekarang kita lolos ke Liga Super dan anak-anak bisa merasakan bermain di Liga Super,” pungkas Kang Herry, didampingi dua asistennya Sulaiman Romario dan Effendi HT.
Pesan final
Sementara itu, mantan pemain Persiraja, Nasir Gurumud yang ikut memberi dukungan kepada pemain dalam laga semifinal di Solo, membagi pengalaman untuk menghadapi partai final melawan Persiba Bantul. Dia berpesan, para pemain butuh kesabaran dan jangan terburu-buru dalam mencetak gol. “Kalau ada peluang maka harus melihat dulu posisi lawan sebelum menendang bola ke dalam gawang atau memberi umpan kepada pemain lain yang lebih besar peluangnya,” pesannya.
Kecuali itu, Nasir Gurumud juga menekankan, agar pemain dapat menjaga kekompakan diantara mereka. “Anak-anak juga harus tetap meningkatkan kekompakan baik di luar lapangan maupun di lapangan. Jangan saling menyalahkan di lapangan karena hal itu bisa berpengaruh kinerja tim dan membuat konsentrasi serta semangat pemain terganggu. Tapi bila ada salah harus saling melengkapi untuk kepentingan dalam meraih kemenangan. Apalagi di final akan bertemu dengan lawan yang lebih kuat dan lebih baik persiapannya,” pintanya. “Selain itu, doa dari pemain dan masyarakat juga sangat penting untuk keberhasilan tim. Karena doa tanpa usaha tidak berarti dan begitu juga sebaliknya,” demikian Nasir Gurumud.(*)
Tiket promosi ‘Lantak Laju’ itu digenggam setelah mengalahkan Mitra Kukar Kutai Kartanegara dari Kalimantan Timur 1-0 pada tarung semifinal di Stadion Manahan, Solo, Minggu (22/5) malam. Di partai final, Rabu (25/5) malam nanti, ‘Laskar Rencong’ akan bersua Persiba Bantul, Yogyakarta yang sukses membemam Persidafon Dafonsoro, Papua 5-2 pada pertarungan babak empat besar.
aksi cukur rambur Herry Kiswanto atau yang akrab disapa Kang Herry dan Sisgiardi memang sangat tersembunyi. Terbukti, saat keduanya memasuki penginapan di
Hotel Indah Palace, Solo, Senin (23/5) siang, penampilan kepala plontos mereka sempat membuat sejumlah pemain dan ofisial tim terheran-heran. menelusuri kejadian unik ini, mendapatkan jawaban kalau keinginan untuk mencukur rambut sudah direncanakan keduanya setelah Persiraja memastikan diri lolos ke semifinal. “Awalnya, ide mencukur rambut ini setelah Persiraja lolos ke semifinal di Papua. Saya bilang ke Sis (Sisgiardi-red), kalau kita lolos ke Liga Super nanti cukur rambut mau?” cerita Kang Herry. Menurut Kang Herry, ide dirinya itu mendapat apresiasi tinggi dari Sisgiardi. “Saat saya ajak, dia (Sis-red) langsung menjawab ‘Ayo siapa takut’. Tapi, saya minta dia jangan bilang siapa-siapa,” ungkap Herry Kiswanto.
Atas kesepakatan bersama, ide tersebut akhirnya tersimpan rapat mengingat keduanya kebagian tidur dalam satu kamar sejak di Papua hingga berlabuh di Solo. Puncaknya, sehari setelah Persiraja memastikan diri promosi ke Liga Super Indonesia berkat gol tunggal Fahrijal Dillah di laga semifinal, Minggu (22/5) malam, keduanya melaksanakan ide mereka mencukur habis rambut mereka. “Karena kita berhasil lolos ke Liga Super, maka pagi harinya kami pergi berdua untuk mencukur rambut,” beber Kang Herry, di ruang makan hotel penginapan.
Di sisi lain, arsitek Persiraja ini menceritakan, bahwa aksi cukur rambut pernah juga dilakukannya saat Bandung Raya menjuarai kompetisi Liga Indonesia tahun 1996. Kala itu, dirinya menjadi asisten pelatih dan merangkap pemain. Sama seperti sekarang, kala itu dia juga menantang para pemain untuk mencukur rambut bila Bandung Raya mampu menjuarai Liga Indonesia. “Akhirnya, setelah Bandung Raya juara, maka saya dan semua pemain mencukur rambut sampai botak,” kenang Kang Herry sambil tertawa.
Saat ditanya apakah dirinya akan kembali mengajak pemain Persiraja untuk mencukur rambut bila meraih gelar juara nanti, pelatih kelahiran Banda Aceh ini menyatakan, dirinya tidak meminta atau mengajak para pemain untuk mencukur rambut. Menurut dia, puncak dari perjalanan Persiraja adalah lolos ke Liga Super.
“Puncaknya adalah kemarin (Minggu malam-red) karena semua tim ingin lolos Liga Super. Kalau final dan juara, terserah anak-anak mau potong rambut atau tidak. Tapi yang penting, sekarang kita lolos ke Liga Super dan anak-anak bisa merasakan bermain di Liga Super,” pungkas Kang Herry, didampingi dua asistennya Sulaiman Romario dan Effendi HT.
Pesan final
Sementara itu, mantan pemain Persiraja, Nasir Gurumud yang ikut memberi dukungan kepada pemain dalam laga semifinal di Solo, membagi pengalaman untuk menghadapi partai final melawan Persiba Bantul. Dia berpesan, para pemain butuh kesabaran dan jangan terburu-buru dalam mencetak gol. “Kalau ada peluang maka harus melihat dulu posisi lawan sebelum menendang bola ke dalam gawang atau memberi umpan kepada pemain lain yang lebih besar peluangnya,” pesannya.
Kecuali itu, Nasir Gurumud juga menekankan, agar pemain dapat menjaga kekompakan diantara mereka. “Anak-anak juga harus tetap meningkatkan kekompakan baik di luar lapangan maupun di lapangan. Jangan saling menyalahkan di lapangan karena hal itu bisa berpengaruh kinerja tim dan membuat konsentrasi serta semangat pemain terganggu. Tapi bila ada salah harus saling melengkapi untuk kepentingan dalam meraih kemenangan. Apalagi di final akan bertemu dengan lawan yang lebih kuat dan lebih baik persiapannya,” pintanya. “Selain itu, doa dari pemain dan masyarakat juga sangat penting untuk keberhasilan tim. Karena doa tanpa usaha tidak berarti dan begitu juga sebaliknya,” demikian Nasir Gurumud.(*)
