
Keseriusan PT Arema Indonesia menjual klub Arema Indonesia, patut dipertanyakan. Pasalnya, sampai Selasa kemarin, Nirwan Dermawan Bakrie sebagai salah satu investor belum mengetahui persis seluk beluk rencana penjualan Arema. Padahal, secara bisnis Nirwan siap mengucurkan dana yang dibutuhkan manajemen.
Hal di atas disampaikan Nirwan Bakrie, melalui saluran telepon, Selasa sore. ‘’Bagaimana caranya kalau saya ingin menyelamatkan Arema. Lewat pintu mana,’’ ujarnya bernada tanya.
Secara implisit, anak ketiga dari keluarga Achmad Bakrie ini, memang tidak menyebutkan berapa rupiah yang telah disediakan untuk menyelamatkan Arema. Tetapi, lelaki kelahiran Jakarta, 1 November 1959 ini, benar-benar ingin mengetahui berapa rupiah tahap awal harus dikucurkan.
‘’Kita mo lihat dulu, berapa dana awal yang dibutuhkan manajemen. Apakah harus melalui beberapa tahap, apa harus langsung sesuai kebutuhan,’’ kata Nirwan, yang sebelumnya telah mengucuri Arema senilai Rp 2,5 miliar melalui Surabaya Post, Surabaya.
Selain mempertanyakan soal finansial, Nirwan rupanya juga belum mengetahui persis model manajemen yang diterapkan Arema. Artinya, jika pendiri klub sepakbola Pelita Jaya ini hendak melakukan transaksi, uang tersebut harus diserahkan ke siapa. Karena, klub Arema sepengetahuan dia pemiliknya banyak sekali.
‘’Sekali lagi, harus lewat pintu mana, kalau Arema mau saya selamatkan. Lantas siapa orang yang paling menentukan dalam persoalan jual beli atau pengambilalihan Arema. Ini mesti jelas,’’ ucap Nirwan, yang juga adik ketiga Aburizal Bakrie Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.
Menurut Nirwan, pihaknya sangat ingin menyelamatkan Arema dari keterpurukan sekarang ini. Bagi Nirwan, klub sekelas Arema sangat disayangkan kalau terus menerus berdiri dalam keadaan tidak menentu. ‘’Penyelematan. Itu dulu yang perlu didahulukan. Jangan bicara yang lain,’’ ujarnya, yang ketika dihubungi tengah berada di kantornya.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Nirwan menyatakan, akan mengambil inisiatif untuk mencari dan menemui Rendra Kresna. Dan jika tidak ada halangan, kemungkinan Jumat, 20 Mei mendatang, pihaknya akan bertemu Rendra di acara Kongres PSSI di Sutan Hotel, Jakarta.
‘’Kalau memang dia (Rendra) mengetahui persis persoalan Arema sekarang dan ke depan, maka saya akan bicara dengannya. Saya mau tahu Arema secara detail dan mendalam, sebelum saya benar-benar mengambil langkah masuk Arema,’’ tuturnya bersemangat.
Terpisah, Presiden Kehormatan Arema, Rendra Kresna menyebut, untuk tahap awal, Arema bunuh dana segar minimal Rp 10 miliar. Dana itu untuk menutupi hutang pajak, gaji pemain dan gaji pelatih.
‘’Tahap awal, kita butuh minim Rp 10 miliar dulu. Karena, beban hutang yang sifatnya immediately (segera) tidak bisa ditunda-tunda lagi. Begitu ada uang, langsung kita bayar,’’ tandas Rendra Kresna.
Secara panjang lebar, Rendra yang ketika dihubungi tengah sibuk mengikuti Rapat Kerja Nasional SOKSI Indonesia di Medan, lantas menjlentrehkan rencananya menjual Arema ke investor. Dari penjelasannya itu pula, sangat diyakini kalau penyelamatan Arema tidak mungkin ditunda-tunda lagi.
Dikatakan Rendra, jika Nirwan Bakrie hendak mengambil Arema maka tidak ada jalan lain kecuali membeli 93 saham PT Arema Indonesia, yang kini dikuasai Yayasan Arema. Sedang tujuh persen sisa saham yang ada tidak mungkin dijual, karena bukan milik Yayasan Arema melainkan milik Lucky Acub Zainal.
‘’Saham itu milik mas Lucky sebagai saham kehormatan. Karena itu, yang bisa dijual hanya saham milik yayasan. Dan berapa harganya, tergantung bagaimana negoisasi antara yayasan dengan calon investor. Bisa Rp 20 miliar atau bisa juga Rp 30 miliar,’’ ujar Rendra.
Meski pintu masuk menguasai Arema melalui yayasan, kata Rendra, investor berhak mengatur dan menempatkan orang-orangnya di PT Arema Indonesia. Artinya, membeli saham yayasan sama artinya dengan membeli PT Arema Indonesia.
‘’Silakan, kalau harga sudah sepakat dan dananya sudah masuk, kepengurusan sepenuhnya ada di tangan investor baru,’’ ujarnya.
Menurut dia, saat ini, secara organisatoris di tubuh Arema telah terbentuk Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Yayasan Arema dan PT Arema Indonesia. Pembentukan PT Arema Indonesia tidak lain sebagai alat bisnis Yayasan Arema, yang bersifat nirlaba.
‘’Yayasan dibentuk sifatnya non profit. Agar yayasan tetap bisa jalan dan tidak menyalahi hukum maka dibentuklah PT Arema. Dan yang bisa menghentikan dan mengangkat pengurus yayasan adalah Dewan Pembina,’’ kata Rendra, yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang ini.
Ditanya soal peluang Nirwan Bakrie masuk ke Arema, lelaki yang juga bupati Malang periode 2010-2015 ini menyebutkan, kelompok Bakrie Grup adalah perusahaan pertama yang harus diberi kesempatan pertama melakukan penawaran, bahkan bisa memiliki Arema.
Alasannya, karena Bakrie selama ini telah berbuat banyak untuk Arema agar tetap bisa berkompetisi di Indonesia Super Liga. Tetapi, secara resmi, Bakrie memang belum menyatakan menawar atau ingin membeli Arema.
‘’Sampai sekarang saya masih menunggu keseriusan beliau (Nirwan Bakrie). Karena, Bakrie harus didahulukan untuk menawar Arema,’’ pungkas Rendra dengan tetap tidak mau menyebutkan berapa harga jual Arema yang sebenarnya. (has/avi)
Hal di atas disampaikan Nirwan Bakrie, melalui saluran telepon, Selasa sore. ‘’Bagaimana caranya kalau saya ingin menyelamatkan Arema. Lewat pintu mana,’’ ujarnya bernada tanya.
Secara implisit, anak ketiga dari keluarga Achmad Bakrie ini, memang tidak menyebutkan berapa rupiah yang telah disediakan untuk menyelamatkan Arema. Tetapi, lelaki kelahiran Jakarta, 1 November 1959 ini, benar-benar ingin mengetahui berapa rupiah tahap awal harus dikucurkan.
‘’Kita mo lihat dulu, berapa dana awal yang dibutuhkan manajemen. Apakah harus melalui beberapa tahap, apa harus langsung sesuai kebutuhan,’’ kata Nirwan, yang sebelumnya telah mengucuri Arema senilai Rp 2,5 miliar melalui Surabaya Post, Surabaya.
Selain mempertanyakan soal finansial, Nirwan rupanya juga belum mengetahui persis model manajemen yang diterapkan Arema. Artinya, jika pendiri klub sepakbola Pelita Jaya ini hendak melakukan transaksi, uang tersebut harus diserahkan ke siapa. Karena, klub Arema sepengetahuan dia pemiliknya banyak sekali.
‘’Sekali lagi, harus lewat pintu mana, kalau Arema mau saya selamatkan. Lantas siapa orang yang paling menentukan dalam persoalan jual beli atau pengambilalihan Arema. Ini mesti jelas,’’ ucap Nirwan, yang juga adik ketiga Aburizal Bakrie Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.
Menurut Nirwan, pihaknya sangat ingin menyelamatkan Arema dari keterpurukan sekarang ini. Bagi Nirwan, klub sekelas Arema sangat disayangkan kalau terus menerus berdiri dalam keadaan tidak menentu. ‘’Penyelematan. Itu dulu yang perlu didahulukan. Jangan bicara yang lain,’’ ujarnya, yang ketika dihubungi tengah berada di kantornya.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Nirwan menyatakan, akan mengambil inisiatif untuk mencari dan menemui Rendra Kresna. Dan jika tidak ada halangan, kemungkinan Jumat, 20 Mei mendatang, pihaknya akan bertemu Rendra di acara Kongres PSSI di Sutan Hotel, Jakarta.
‘’Kalau memang dia (Rendra) mengetahui persis persoalan Arema sekarang dan ke depan, maka saya akan bicara dengannya. Saya mau tahu Arema secara detail dan mendalam, sebelum saya benar-benar mengambil langkah masuk Arema,’’ tuturnya bersemangat.
Terpisah, Presiden Kehormatan Arema, Rendra Kresna menyebut, untuk tahap awal, Arema bunuh dana segar minimal Rp 10 miliar. Dana itu untuk menutupi hutang pajak, gaji pemain dan gaji pelatih.
‘’Tahap awal, kita butuh minim Rp 10 miliar dulu. Karena, beban hutang yang sifatnya immediately (segera) tidak bisa ditunda-tunda lagi. Begitu ada uang, langsung kita bayar,’’ tandas Rendra Kresna.
Secara panjang lebar, Rendra yang ketika dihubungi tengah sibuk mengikuti Rapat Kerja Nasional SOKSI Indonesia di Medan, lantas menjlentrehkan rencananya menjual Arema ke investor. Dari penjelasannya itu pula, sangat diyakini kalau penyelamatan Arema tidak mungkin ditunda-tunda lagi.
Dikatakan Rendra, jika Nirwan Bakrie hendak mengambil Arema maka tidak ada jalan lain kecuali membeli 93 saham PT Arema Indonesia, yang kini dikuasai Yayasan Arema. Sedang tujuh persen sisa saham yang ada tidak mungkin dijual, karena bukan milik Yayasan Arema melainkan milik Lucky Acub Zainal.
‘’Saham itu milik mas Lucky sebagai saham kehormatan. Karena itu, yang bisa dijual hanya saham milik yayasan. Dan berapa harganya, tergantung bagaimana negoisasi antara yayasan dengan calon investor. Bisa Rp 20 miliar atau bisa juga Rp 30 miliar,’’ ujar Rendra.
Meski pintu masuk menguasai Arema melalui yayasan, kata Rendra, investor berhak mengatur dan menempatkan orang-orangnya di PT Arema Indonesia. Artinya, membeli saham yayasan sama artinya dengan membeli PT Arema Indonesia.
‘’Silakan, kalau harga sudah sepakat dan dananya sudah masuk, kepengurusan sepenuhnya ada di tangan investor baru,’’ ujarnya.
Menurut dia, saat ini, secara organisatoris di tubuh Arema telah terbentuk Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Yayasan Arema dan PT Arema Indonesia. Pembentukan PT Arema Indonesia tidak lain sebagai alat bisnis Yayasan Arema, yang bersifat nirlaba.
‘’Yayasan dibentuk sifatnya non profit. Agar yayasan tetap bisa jalan dan tidak menyalahi hukum maka dibentuklah PT Arema. Dan yang bisa menghentikan dan mengangkat pengurus yayasan adalah Dewan Pembina,’’ kata Rendra, yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang ini.
Ditanya soal peluang Nirwan Bakrie masuk ke Arema, lelaki yang juga bupati Malang periode 2010-2015 ini menyebutkan, kelompok Bakrie Grup adalah perusahaan pertama yang harus diberi kesempatan pertama melakukan penawaran, bahkan bisa memiliki Arema.
Alasannya, karena Bakrie selama ini telah berbuat banyak untuk Arema agar tetap bisa berkompetisi di Indonesia Super Liga. Tetapi, secara resmi, Bakrie memang belum menyatakan menawar atau ingin membeli Arema.
‘’Sampai sekarang saya masih menunggu keseriusan beliau (Nirwan Bakrie). Karena, Bakrie harus didahulukan untuk menawar Arema,’’ pungkas Rendra dengan tetap tidak mau menyebutkan berapa harga jual Arema yang sebenarnya. (has/avi)
