
Nama besar Eduard Ivakdalam ternyata masih hangat menjadi bahasan publik bola mania di Papua. Ya karir dan dedikasi pemain terlama dan tertua di Persipura ini akhirnya terhenti setelah manajemen memutuskan untuk tak lagi menggunakan tenaganya.
Dari keluarnya jenderal lapangan tengah ini muncul banyak argumen dan asumsi baik yang mendukung keluarnya Edu maupun yang menilai manajemen salah menentukan kebijakan.
Mantan pemain Persipura, Nando Fairyo mengatakan publik jelas tak akan melupakan semua jasa Edu, tapi sebagai pemain senior tongkat estafet tetap perlu dilanjutkan. Pengalaman sebagai pemain professional memang mengajarkan untuk siap disegala situasi.
“Tak dipungkiri apa yang sudah diberikan Edu adalah moment sejarah Persipura tapi kita juga perlu melihat bahwa tak selamanya pemain akan terus bertahan jika tenaga muda berpotensi terus bermunculan,” katanya.
“Mungkin yang penting saat ini adalah tetap memberikan dukungan kepada Persipura dan memberikan apresiasi kepada Ketum M.R Kambu dan manager Rudy Maswi yang sudah membangun pondasi kokoh awal kebangkitan Persipura,” imbuhnya.
Sementara itu Stanley Waita, M.T mantan pelatih kiper Persipura U-18 tahun 2007 mengatakan keluarnya Edu akan membuat publik protes. Analisanya karena publik melihat keluarnya Edu bukan karena campur tangan Tuhan.
Tapi dikatakan ada 3 hal yang perlu dipahami masyarakat saat ini tentang perjalanan Persipura. Persipura tidak sekedar butuh loyalitas semata tetapi juga kualitas, kedua keluarnya identik ketika Raja Isa keluar dan digantikan oleh Jacksen. Ditengah jalan masyarakat menghujat manajemen. Hujatan ini lebih keras ketika Persipura kalah dari PSIS. Tapi coba disimak hasilnya Persipura tetap juara sebelum kompetisi usai dan ke tiga sepakbola prosesnya bukan instan, masyarakat hanya melihat hasil bukan proses jadi pola pikir ini yang perlu diluruskan.
Pendapat berbeda diungkapkan mantan kiper Persipura Nico Dimo, menurutnya salah besar jika Edu akhirnya tidak lagi bermain di Persipura. Dikatakan, pemain yang sudah 16 tahun itu merupakan satu-satunya pemain yang mampu memberikan sentuhan kedewasaan ditengah tim sekaligus menjaga stabilitas tim. Dan tak berlebihan bila Edu merupakan pemain yang tak ada duanya di Persipura.
“Sangat disayangkan jika akhirnya pemain terlama di Persipura ini tidak di pakai. Persipura bukan hanya butuh pemain berkualitas tetapi bagaimana dengan hadirnya sosok pemain yang bisa mengayomi dan mencurahkan semua kemampuannya sekian lama hanya untuk satu tim. “Bagi saya dia seorang pahlawan Persipura, jika orang berbicara Persipura pasti berbicara Edu,” beber Nico Dimo.
Jika akhirnya memang dipastikan keluar, lanjut Nico paling tidak ada penghormatan terakhir yang diberikan kepada Edu. Ibarat budaya dan adat di Papua, jika seseorang pulang perang maka harus ada penghormatan yang diberikan. “Bentuknya bisa dengan menggelar pertandingan amal,” katanya.
Hal senada disampaikan Frits Ramandey., pria yang juga terlibat dalam penggarapan buku tentang Persipura ini menganggap tidak elok jika manajemen melepas sang legendaris. “Ini merupakan langkah mundur,” tulisnya.
Selama ini prestasi Persipura tak lepas dari peran kapten dan Edu selama ini menjadi tokoh kunci tersebut. (ade/wen)
Dari keluarnya jenderal lapangan tengah ini muncul banyak argumen dan asumsi baik yang mendukung keluarnya Edu maupun yang menilai manajemen salah menentukan kebijakan.
Mantan pemain Persipura, Nando Fairyo mengatakan publik jelas tak akan melupakan semua jasa Edu, tapi sebagai pemain senior tongkat estafet tetap perlu dilanjutkan. Pengalaman sebagai pemain professional memang mengajarkan untuk siap disegala situasi.
“Tak dipungkiri apa yang sudah diberikan Edu adalah moment sejarah Persipura tapi kita juga perlu melihat bahwa tak selamanya pemain akan terus bertahan jika tenaga muda berpotensi terus bermunculan,” katanya.
“Mungkin yang penting saat ini adalah tetap memberikan dukungan kepada Persipura dan memberikan apresiasi kepada Ketum M.R Kambu dan manager Rudy Maswi yang sudah membangun pondasi kokoh awal kebangkitan Persipura,” imbuhnya.
Sementara itu Stanley Waita, M.T mantan pelatih kiper Persipura U-18 tahun 2007 mengatakan keluarnya Edu akan membuat publik protes. Analisanya karena publik melihat keluarnya Edu bukan karena campur tangan Tuhan.
Tapi dikatakan ada 3 hal yang perlu dipahami masyarakat saat ini tentang perjalanan Persipura. Persipura tidak sekedar butuh loyalitas semata tetapi juga kualitas, kedua keluarnya identik ketika Raja Isa keluar dan digantikan oleh Jacksen. Ditengah jalan masyarakat menghujat manajemen. Hujatan ini lebih keras ketika Persipura kalah dari PSIS. Tapi coba disimak hasilnya Persipura tetap juara sebelum kompetisi usai dan ke tiga sepakbola prosesnya bukan instan, masyarakat hanya melihat hasil bukan proses jadi pola pikir ini yang perlu diluruskan.
Pendapat berbeda diungkapkan mantan kiper Persipura Nico Dimo, menurutnya salah besar jika Edu akhirnya tidak lagi bermain di Persipura. Dikatakan, pemain yang sudah 16 tahun itu merupakan satu-satunya pemain yang mampu memberikan sentuhan kedewasaan ditengah tim sekaligus menjaga stabilitas tim. Dan tak berlebihan bila Edu merupakan pemain yang tak ada duanya di Persipura.
“Sangat disayangkan jika akhirnya pemain terlama di Persipura ini tidak di pakai. Persipura bukan hanya butuh pemain berkualitas tetapi bagaimana dengan hadirnya sosok pemain yang bisa mengayomi dan mencurahkan semua kemampuannya sekian lama hanya untuk satu tim. “Bagi saya dia seorang pahlawan Persipura, jika orang berbicara Persipura pasti berbicara Edu,” beber Nico Dimo.
Jika akhirnya memang dipastikan keluar, lanjut Nico paling tidak ada penghormatan terakhir yang diberikan kepada Edu. Ibarat budaya dan adat di Papua, jika seseorang pulang perang maka harus ada penghormatan yang diberikan. “Bentuknya bisa dengan menggelar pertandingan amal,” katanya.
Hal senada disampaikan Frits Ramandey., pria yang juga terlibat dalam penggarapan buku tentang Persipura ini menganggap tidak elok jika manajemen melepas sang legendaris. “Ini merupakan langkah mundur,” tulisnya.
Selama ini prestasi Persipura tak lepas dari peran kapten dan Edu selama ini menjadi tokoh kunci tersebut. (ade/wen)
