Share |

Mimpi Singo Edan Terancam Buyar


Arema Indonesia sudah meraih trofi Indonesia Super Eague (ISL) 2009/2010. Klub berjuluk Singo Edan ini berpeluang menyamai rekor dobel gelar Sriwijaya FC (SFC) pada 2007/2008.

Syaratnya, Arema harus mampu menambah koleksinya untuk trofi Piala Indonesia 2010. Gelar serupa sudah pernah diraih pasukan Singo Edan pada musim 2005 dan 2006. Kala itu ajang ini masih bertitel Copa Dji Sam Soe. Kini, setelah Arema masuk 8 besar, ambisi meraih gelar kedua musim ini semakin besar.

Sayang, langkah memuluskan ambisi tersebut terganjal sejumlah masalah. Persiapan mereka hanya ala kadarnya karena kondisi finansial yang amburadul. Telatnya gaji pemain berimbas langsung pada persiapan tim.

Pemain harus menelan janji tanpa bukti. Beberapa kali skuad Arema yang biasanya berlatih di Lapangan Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, harus terganggu sikap mogok latihan para pemainnya.

Semua itu masih harus diperparah kontrak pemain yang belum jelas untuk musim depan. Pengurus Arema hanya bisa memberikan addendum atau perpanjangan kontrak sementara hingga gelaran Piala Indonesia.

Pelatih Arema Robert Rene Alberts pun tak mampu berbuat banyak dengan kondisi ini. Soal ambisi, arsitek asal Belanda ini menuturkan, sebenarnya bermimpi mengawinkan dua gelar untuk Singo Edan.

’’Ya beginilah kondisinya. Saya khawatir akan melemahkan motivasi pemain,” kata pelatih yang juga belum memastikan kontraknya di Arema untuk musim depan.

Masalah finansial yang dihadapi Arema Indonesia ini merupakan pertama kali sejak sembilan tahun terakhir. Setelah diambil alih PT Bentoel Prima pada 2003, Arema tidak pernah kehausan dana. Setelah PT Bentoel meletakkan pengelolaan klub pada 2009, tanda-tanda goyah mulai tampak.

Namun, dalam kondisi terjepit penuh masalah, ada yang melegakan Arema. Pasukan Singo Edan boleh menggelar pertandingan dimarkasnya, Stadion Kanjuruhan. Sebelumnya venue laga kontra Persib Bandung simpang siur karena izin yang belum turun dari Polres Malang, terkait gelaran kampanye Pilkada Kabupaten Malang. ’

"Pertandingan lawan Persib jadi digelar di Kanjuruhan. Sudah ada izin dari Polres Malang,” kata Media Officer Arema Indonesia Sudarmaji.

Arena laga menjadi sangat krusial bagi Arema. Semua dengan pertimbangan utama pemasukan dari penjualan tiket. Itu sangat berbeda jika pertandingan digelar di Stadion Gajayana, arena alternatif jika Kanjuruhan tak dapat izin.

Kapasitas Gajayana memang tak sebesar Kanjuruhan. Pemasukan tiket Arema sekali laga bisa meraup uang di kisaran Rp700 juta–800 juta jika digelar di Stadion Kanjuruhan. Sebab, daya tampung stadion 40.000 penonton.

Angka sebesar itu diharapkan bisa menutup kebutuhan operasional klub yang menumpuk, salah satunya gaji pemain. Kendati demikian, hasil perolehan tiket masih sangat kecil dibanding nominal yang dibutuhkan Arema saat ini. (kukuh setyawan/sindo)
Share on Google Plus

About 12paz