
Meski berpenampilan buruk di pentas Liga Super Indonesia (ISL), bukan berarti Pelita Jaya tak bisa berprestasi. Tim besutan Jajang Nurjaman itu bisa saja membuat kejutan dengan tampil di final seperti yang dilakukan Portsmouth di pentas Piala FA Inggris.
"Portsmouth tim papan bawah di Inggris, tapi mereka bisa tampil luar biasa di setiap pertandingan hingga bisa tampil di final dan bertemu dengan Chelsea. Hal yang sama bisa diraih Pelita dalam ajang Piala Indonesia. Jadi, Pelita kami anggap sebagai tim dengan kualitas tersendiri. Itu sebabnya, kami akan waspada menghadapinya," terang Jacksen Tiago, arsitek Persipura menanggapi undian Piala Indonesia kepada GOSport.
Pelita akan menjamu Persipura di leg 1 babak 8 besar Piala Indonesia, Kamis 15 Juli 2010. Dalam pertemuan dua kali pada ajang Liga Super, Tim Mutiara Hitam unggul head to head.
Pada pertemuan pertama di Stadion Singaperbangsa, Karawang, kedua tim berbagi angka 2-2. Kemudian, pada laga kedua di Jayapura, Boaz Solossa dan kawan-kawan unggul 2-1.
Berdasarkan skor tersebut, kata Jacksen, kualitas Pelita dengan Persipura cukup berimbang. Jika mengacu pada skor tersebut, Jacksen ada benarnya. Namun jika dilihat lebih dalam, ketika bermain di Karawang, Persipura masih
diperkuat mesin golnya Alberto "Beto" Goncalves.
Tapi, untuk pertemuan kali ini Persipura dipastikan kehilangan bomber asal Brasil itu karena masih cedera. Pada laga babak 8 Besar, Persipura tak hanya kehilangan Beto, juga Qu Cheng akibat alasan yang sama. Dengan demikian,
Persipura akan mengandalkan Boaz, Yustinus Pae, Ian Kabes, Tang Tian dan David Kristian Uron.
Menurut Jacksen, tim seperti Pelita besar kemungkinan mampu membuat kejutan karena tampil dengan predikat underdog. "Ya, dengan status tim bukan unggulan akan membuat mereka bisa tampil lepas. Dengan tampil rileks,
keberanian pemain untuk berkreasi akan lebih mudah muncul ketimbang tim dengan predikat tim unggulan. Jadi, menurut saya Pelita tetap berbahaya," puji ekspatriat asal Brasil ini.
Pelita, sebut Jacksen, punya kualitas pemain yang bagus. Misalnya, di bawah mistar Pelita memiliki Dian Agus Prasetyo, I Made Wardana, dan Ali Barkah. Pelita juga punya pemain belakang berkualitas seperti Yohan Ibo, Carlos Eduardo, Supardi, M Ridwan, Ardan Aras, Agustiar Batubara, serta Achmad Jufryanto.
Kualitas lini tengah Pelita juga tak kalah menterang dengan tongkrongan Yuthajak Konjan, Esteban Vizcara, Egi Melgiansyah, Jusmadi, Khusnul Yakin, Basri Badussalam dan Kerry Yudiono.
Meski lini depan tak produktif, tapi mereka punya bomber dengan nama besar seperti Redouane Barkoui, Rudy Widodo maupun Jajang Mulyana. Bahkan, Jajang sempat menimba ilmu di Brasil.
Keunggulan Pelita, lanjut Jacksen, mereka rata-rata pernah membela tim nasional. Itu pula sebabnya, Jacksen berpesan kepada anak asuhnya untuk tidak meremehkan setiap lawan.
"Bermain total dengan penuh sportivitas selalu menjadi tujuan utama kami dalam setiap pertandingan. Soal hasil, itu urusan lain. Yang pasti, kami selalu menginginkan hasil yans terbaik," katanya.
Laporan: Daniel Siahaan/GOSport
