
Meski Dzumafo sudah menggaransi dirinya tetap akan bermain di PSPS musim depan, namun masih menjadi tanda tanya apakah manajemen akan sanggup membayar nilai kontraknya yang dipastikan naik dari musim lalu sebesar Rp700 juta. Sebab beberapa tim yang sudah membidiknya sebut saja Persija, Persib, PSM dan terakhir Persema, berani mengontrak pemain asal Kamerun ini rata-rata dengan Rp1 miliar. Tapi bisa dipastikan manajemen PSPS akan tetap berupaya mempertahankan striket yang mengemas 16 gol ini untuk tetap berseragam PSPS musim depan.
Walikota Pekanbaru yang juga Ketua Umum PSPS, Herman Abdullah, mengaku tidak akan mencampuri urusan kontrak pemain. Karena untuk urusan ini sudah diserahkan sepenuhnya kepada manajer. Artinya, urusan kontrak pemain menjadi tanggungjawab manajer. " Saya sudah beri kewenangan kepada manajer, karena manajer dan perangkatnya lebih tahu tentang hal ini," terang Herman
Namun untuk sekedar saran dan pertimbangan, Wako tetap akan berdiskusi dengan tim manajemen. Ini dilakukan agar tidak salah langkah dalam merekrut pemain. Apalagi dari tuntutan suporter, PSPS harus lebih bagus dari musim lalu. "Diskusi tetap," ujarnya singkat.
Ya, untuk kontrak pemain PSPS menjadi tanggungjawab manajemen sepenuhnya bersama pelatih. Sebab mereka lebih mengerti siapa pemain yang harus dikontrak dengan nilai besar, begitu juga sebaliknya. Apalagi beberapa pemain yang bakal menghuni squad PSPS musim depan, dipastikan kontraknya naik melebihi dari yang didapatnya musim lalu. Jika musim lalu Dzumafo dikontrak dengan nilai Rp700 juta, sementara dua pemain asing lainnya dibawah Rp500 juta, serta pemain lokal rata-rata Rp300 juta, maka nilai itu tidak lagi akan sama untuk musim depan. Namun yang harus menjadi catatan, khusus manajemen, agar selektif memilih pemain supaya tidak mengontrak pemain yang tidak dibutuhkan.
Harus Dekati Pemain Incaran Secara Kekeluargaan
Meski squad PSPS belum jelas, namun manajemen sudah mengagendakan latihan resmi usai Piala Dunia. Manajemen juga terus berkomunikasi dengan pemain incaran. Hanya saja, pemain yang diincar dipastikan juga sudah diincar tim lain dan mereka ditawari harga yang lebih tinggi. Sebut saja Pablo Prances yang di Persijab dikontrak Rp800 juta, serta Tantan Rp450 juta di Persitara.
Disisi lain, PSPS musim lalu hanya berani mengucurkan uang belanja pemain dengan nilai tertinggi Rp700 juta, Kontrak tertinggi itu diberikan kepada Dzumafo. Selebihnya hanya dibawah Rp500 juta. Namun masih ada jalan merekrut mereka. Manajemen harus melakukan pendekatan secara kekeluargaan pada pemain. "Itu jalan yang paling tepat. Sebab kalau materi diandalkan kalah bersaing," kata pemerhati sepakbola Riau, Drs Akhyar Mpd,
Pendekatan kekeluargaan yang dimaksud, manajemen harus membentuk tim kecil untuk meminang beberapa pemain incaran tersebut. Jika perlu utarakan kelebihan yang dimiliki PSPS selama ini. "Ya itu tadi, PSPS terkenal dengan rasa kekeluargaan yang kental. Saya rasa ini jadi pertimbangan khusus pemain tersebut," terangnya.
APBD Tergantung Pemerintah
Sementara itu masalah pendanaan, PSPS Pekanbaru sudah dipastikan akan menggunakan dana APBD untuk biaya perjalanan di ISL musim depan. Baik APDB Kota Pekanbaru maupun APBD Provinsi Riau. Namun belum bisa dipastikan berapa dana yang bersumber dari uang rakyat itu dikucurkan untuk PSPS. Seperti diketahui, pada ISL musim lalu APBD Kota Pekanbaru memberikan bantuak ke PSPS sebesar Rp7 miliar. Sementara APBD Provinsi Riau sebesar Rp3 miliar.
Bisa dipastikan nilai untuk ISL musim depan akan bertambah. Tapi berapa jumlah penambahannya, hingga kini belum diketahui pihak manajemen. "Kalau bantuan dari APBD, tergantung pemerintah. Kita tidak bisa intervensi. Berapa yang dikucurkan nanti, itulah yang kita terima," ujar Ide mengakhiri. (saf)
