
PSSI telah memutuskan untuk menggelar pelatnas jangka panjang bagi timnas Indonesia. Padahal, pilihan ini berpotensi melemahkan kompetisi nasional yang ada saat ini.
"Saat klub-klub kalah telak di pentas AFC Cup atau Liga Champions, tidak ada yang ribut. Namun bila timnas gagal, dunia seperti kiamat," kata Sekretaris Jenderal PSSI, Nugraha Besoes, Selasa 17 Mei 2010.
"Ini memang pilihan sulit, namun kami terpaksa mengambil pilihan pahit ini demi prestasi timnas," tambah pria yang akrab disapa Kang Nug itu.
Nugraha menyadari bahwa pelatnas jangka panjang berpotensi melemahkan kompetisi. Pasalnya, selama ini klub-klub banyak yang mengandalkan tenaga pemain timnas dalam mengarungi kompetisi.
Selain itu, hadirnya pemain timnas di kompetisi nasional juga penting untuk menjaga animo penonton. Tanpa pemain timnas, kompetisi juga dikhawatirkan bakal semakin tidak kompetitif.
Pelatnas jangka panjang sendiri kerap menimbulkan kontroversi. Klub-klub yang ada di Indonesia rata-rata tidak setuju dengan program ini.
Tahun lalu, wacana ini bahkan mendapat reaksi keras dari klub-klub yang berlaga di pentas Liga Super Indonesia (ISL). Akibatnya PSSI harus mengalah dan memutuskan untuk menggelar pelatnas secara bertahap.
Menanggapi persoalan ini, Nugraha mengaku telah mendapat persetujuan dari anggota PSSI. Selain itu, PSSI juga menurut Nugraha telah berkoordinasi dengan PT Liga Indonesia untuk mencari jalan tengahnya.
"Saat Kongres di Bandung (Februari 2010) juga telah disepakati untuk menggelar pelatnas jangka panjang. Masalah ini juga sudah dibicarakan dengan BLI (PT Liga Indonesia). Kami akan menyiasati agar timnas bisa jalan dan klub juga bisa jalan," kata Nugraha.
"Timnas akan menghadapi dua event penting dalam waktu dekat ini, yakni Piala AFF 2010 dan SEA Games 2011. Kita harus memilih, apakah klub tanpa pemain timnas tapi juara atau pelatnas buka tutup tapi tidak juara," tandas Nugraha.
