
Amunisi lini depan Persema tetap tidak komplit disaat menuntaskan empat laga pamungkas Super Liga. Hal ini menyusul kondisi striker asing, Jairon Feliciano Damasio yang belum pulih seratus persen dari cedera putut jemari manis kaki kirinya.
Pemain asing Brasil ini lebih memilih menjalani terapi pemulihan cedera tanpa melalui operasi. Kalaupun operasi, Jairon juga membutuhkan waktu istirahat kurang lebih sebulan. Dengan demikian, dia baru bisa tampil disaat kompetisi sudah berakhir.
‘’Kondisi Jairon belum pulih dari cedera itu. Sepertinya, Persema sudah tidak bisa menggunakan tenaganya di sisa pertandingan Super Liga ke depan,” terang Danur Dara, Asisten Pelatih Persema kepada Malang Post, kemarin.
Selain itu, performance striker asing Persema lainnya, Brima Pepito Sanusie di beberapa laga terakhirnya jauh dari memuaskan. Pemain asal Sierra Leone justru menjadi kartu mati Laskar Ken Arok. Naluri golnya sangat tumpul disaat memiliki peluang emas yang seratus persen harusnya menjadi gol.
Dua kali tampil di ajang penyisihan Grup F Piala Indonesia, tidak ada satupun gol yang disumbangkannya. Padahal, tenaganya sangat diandalkan Persema sebagai finisher di lini depan ketika Jairon cedera. Walhasil, runner up Divisi Utama musim ini terpaksa harus tersingkir dari ajang turnamen tersebut setelah gagal lolos ke babak 16 besar. ‘’Pepito jauh dari harapan. Dia tidak mampu menyelesaikan peluangnya yang semestinya jadi gol untuk Persema,” terang Danur Dara.
Walhasil, Persema tinggal berharap pada keberadaan dua penyerang lokalnya, Jaya Teguh Angga dan Harmoko. Meski demikian, tim pelatih tetap bertekad mampu mengasah ketajaman barisan depannya. Caranya, Jaya Teguh dkk ini terus digembleng menu peningkatan ketajaman sepanjang jedah sementara kompetisi. ‘’Kami akan terus gembleng finishing touch mereka,” tambah mantan pelatih klub lokal, AMS Kepanjen ini. (poy/nug)
