Share |

Gagal di Laos, Munculkan Kambing Hitam


Tak alasan lagi bagi tim sepak bola Indonesia untuk berlama-lama di arena SEA Games XXV Laos. Setelah dipastikan tersingkir, Tony Sucipto dkk kemarin sudah tiba di tanah air.

Dalam tiga pertandingan di penyisihan grup, timnas U-23 tidak pernah menang. Mereka bermain seri 2-2 dengan Singapura di laga pembuka. Setelah itu, Indonesia kalah 0-2 dari tuan rumah Laos dan dipukul Myanmar dengan skor telak 1-4.

Pelatih timnas U-23 Alberto Bica mengaku tidak puas dengan hasil yang diraih timnya. Namun, dia menyebut beberapa hal yang membuat skuad Merah Putih gagal total. Salah satunya adalah masa persipan yang singkat. "Praktis hanya sekitar sembilan pekan saya diberi waktu mematangkan tim," tutur pria asal Uruguay itu.

Timnas memang sudah mulai berlatih sejak pemusatan latihan nasional (pelatnas) digulirkan KONI pada Maret lalu. Namun, tim baru terbentuk Agustus Itupun belum semua pemain bisa berkumpul.

Menurut Alberto, anak didiknya sebenarnya bisa menuai kemenangan jika tampil optimal. Namun, tak seluruh pemain bisa menerapkan instruksinya dengan baik. Ada empat pemain pilar yang mendapatkan sorotan Alberto. Yakni Boaz Solossa, Djayusman Triasdi, Rachmat Latief, dan Dendy Santoso.

Boaz, Djayusman, dan Latief dimainkan saat melawan Singapura dan Laos. Sementara Dendy bermain meski sebelumnya duduk di bangku cadangan.

''Tak satupun pemain ini cedera. Mereka tampil kurang meyakinkan pada pertandingan sebelumnya. Apa saya harus memasang mereka dan mengabaikan pemain lain," tutur Alberto.

Dia malah kaget saat dikonfirmasi apakah benar empat pemain itu cedera sehingga harus diistirahatkan sewaktu timnas melawan Myanmar di laga terakhir. ''Kami memiliki laporan kesehatan lengkap. Tidak ada yang cedera. Semua pemain fresh," tegas Alberto.

Pernyataan itu bertolak belakang dengan keterangan manajer tim Andi Darusallam Tabussala. Menjelang laga kontra Myanmar, Boaz dan tiga pemain lain sengaja tak diturunkan dengan alasan cedera.

Alberto menampik tudingan bahwa kendala bahasa menjadi penyebab kegagalan timnas. ''Kami selalu memberikan kesempatan pemain untuk tunjuk tangan dan bertanya setiap mereka tak mengerti. Nyatanya tak pernah ada yang menggunakan kesempatan itu," tutur Alberto.

Hal itu diamini Tony Sucipto, kapten tim. "Kami biasa bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Kalau Alberto tidak kurang paham, para asistennya cukup mengerti kok," tuturnya. ''Tidak ada alasan komunikasi kurang lancar," sambung pemain Sriwijaya FC itu. (vem/ca)
Share on Google Plus

About 12paz