
Indonesia lagi-lagi gagal meraih gelar juara. Pada partai final Hassanal Bolkiah Trophy, Tim Nasional (Timnas) U-21 Indonesia menyerah atas tuan rumah Brunei Darussalam dengan skor 0-2. Atas kekalahan ini, keluarga kapten Timnas U-21, Andik Vermansyah, meminta maaf ke seluruh rakyat Indonesia.
Ucapan permintaan maaf disampaikan Kakak kedua Andik, Agus Dwi Cahyono usai pertandingan, Jumat (9/3/2012) malam. "Maaf untuk rakyat Indonesia, adik saya harus runner up lagi. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil Andik," kata Agus.
Sedangkan bapak Andik, Saman lebih bijak menanggapi kegagalan ini. Saman memang mengaku kecewa atas kegagalan kedua putranya, tapi ia yakin ada pelajaran besar yang bisa dipetik Andik dan Timnas U-21 usai gelaran Hassanal Bolkiah Trophy.
"Alhamdulillah dapat juara dua. Mungkin belum waktunya juara," kata Saman. Keluarga Andik memang mengadakan nonton bareng (nobar) di kediamannya, daerah Kalijudan, Surabaya. Seluruh keluarga besar Andik tumplek-bek di rumah dua lantai itu.
"Mungkin ini belum waktunya saja Andik bawa piala. Saya yakin ada pelajaran yang bisa dipetik. Ke depan, kami ingin jadi juara," terang Saman.
Sementara ibu Andik, Jumiah, mengurung diri di kamar. Jumiah tidak tahan putra bungsunya menjadi sasaran tekel pemain Brunei. Ia semakin geram karena wasit membiarkan itu. Sejak babak kedua bergulir, Jumiah memilih naik ke lantai dua. Sementara anggota keluarga lainnya meneruskan nobar. [sya/but]
Ucapan permintaan maaf disampaikan Kakak kedua Andik, Agus Dwi Cahyono usai pertandingan, Jumat (9/3/2012) malam. "Maaf untuk rakyat Indonesia, adik saya harus runner up lagi. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil Andik," kata Agus.
Sedangkan bapak Andik, Saman lebih bijak menanggapi kegagalan ini. Saman memang mengaku kecewa atas kegagalan kedua putranya, tapi ia yakin ada pelajaran besar yang bisa dipetik Andik dan Timnas U-21 usai gelaran Hassanal Bolkiah Trophy.
"Alhamdulillah dapat juara dua. Mungkin belum waktunya juara," kata Saman. Keluarga Andik memang mengadakan nonton bareng (nobar) di kediamannya, daerah Kalijudan, Surabaya. Seluruh keluarga besar Andik tumplek-bek di rumah dua lantai itu.
"Mungkin ini belum waktunya saja Andik bawa piala. Saya yakin ada pelajaran yang bisa dipetik. Ke depan, kami ingin jadi juara," terang Saman.
Sementara ibu Andik, Jumiah, mengurung diri di kamar. Jumiah tidak tahan putra bungsunya menjadi sasaran tekel pemain Brunei. Ia semakin geram karena wasit membiarkan itu. Sejak babak kedua bergulir, Jumiah memilih naik ke lantai dua. Sementara anggota keluarga lainnya meneruskan nobar. [sya/but]
