
MENJAGAkondisi finansial tetap sehat dan tidak banyak mengalami kerugian, buat klub sepak bola di Indonesia jadi pekerjaan berat. Sejauh ini faktor keuangan masih jadi kendala terbesar mayoritas klub.
Tak terkecuali klub yang secara tradisional sarat prestasi dan historis. Hanya beberapa klub yang dalam beberapa musim terakhir mulai menanggalkan kebiasaan buruk menggantungkan tanggung jawab pendanaan kepada kas pemerintah. Kondisi riil sepak bola Indonesia cenderung masih lebih sering bicara menggapai prestasi tinggi dalam arti sebenarnya, tapi bukan berarti niat menuju kemandirian tak ada.Persoalannya,saat ini hampir semua klub,terutama eks Perserikatan, dalam masa transisi. Kebijakan yang melarang klub mendapat suntikan dana segar pemerintah dianggap agak terlalu cepat.
Kenyataannya banyak klub yang dituntut secepat mungkin melakukan transisi pengelolaan. Imbasnya, banyak klub yang kondisinya masih mencoba belajar mandiri, lantas jatuh. Sayangnya, setelah jatuh jarang mampu bangkit kembali.Seperti yang dialami juara Ligina II Bandung Raya dan Petrokimia Gresik (juara Ligina 2002). Kedua klub butuh waktu lumayan lama untuk eksis kembali.Bahkan Bandung Raya hingga musim lalu masih berkutat di level Divisi III atau kasta terendah. Klub yang sempat menarik perhatian publik Kota Kembang itu seolah tak pernah terdengar lagi kiprahnya. Nah,dalam dua musim terakhir, Persib dan Sriwijaya FC (SFC) untuk sementara bisa beradaptasi dengan kondisi yang terjadi.
Presiden PT Sriwijaya DodiReza bahkan mengklaim jika musim depan Laskar Wong Kito bakal jadi salah satu klub paling sehat. “Insya Allah kondisi keuangan kami cukup baik. Kami berharap bisa dipertahankan dari musim ke musim.Kami bersyukur karena perhatian dari sejumlah perusahaan BUMN dan BUMD di Sumsel cukup besar,”kata Dodi saat dihubungi SINDO. (mohamad taufik)
