
BANYAK yang bersuara bahwa pengurus PT Liga Indonesia (PT LI) dan Komite Wasit PSSI turut berperan dalam aksi suap di dunia sepak bola tanah air. Namun, CEO PT LI Joko Driyono membantah terlibat. Kasus tersebut menghangat sejak ada pengakuan dari perwakilan klub pada Kongres Tahunan PSSI di Bandung, 15-16 Januari lalu.
"Kalau terbukti menerima suap, saya siap mundur dari jabatan. Saya justru akan memerangi suap itu," kata alumni Institut Teknologi 10 November Surabaya tersebut.
Dia menegaskan, jika memang ada staf PT LI yang terlibat, pihaknya siap menyerahkannya kepada Komisi Disiplin (Komdis) PSSI atau Satgas Antisuap PSSI. Dia bertekad untuk melakukan "pembersihan" di PT LI. "Saya juga berharap, ini tidak menjadi fitnah di media. Tapi, kalau hal tersebut benar, saya merasa sangat dikhianati," ungkapnya.
Karena itu, Joko berharap bisa mengantongi bukti adanya aliran uang haram yang masuk rekening PT LI. Jika si pelaku menyuap dengan transfer, dia berharap bisa mendapatkan bukti nomor rekening pengirim, tanggal transfer, atau bukti apa pun untuk bisa menelusuri uang yang beredar.
Agar keamanan terjaga, Joko juga siap melindungi pelapor tersebut. "Jangan takut. Saya berada di garda terdepan untuk memerangi suap," ujarnya.
Di sisi lain, Joko justru prihatin jika klub harus merogoh kocek untuk penyuapan. "Jangan sampai banyak pihak memanfaatkan kesulitan klub," ungkapnya. Seharusnya, menurut dia, klub juga menyadari bahwa kemenangan pertandingan ditentukan di atas lapangan. Selain itu, regulasi kompetisi sudah disusun agar tak bisa dibelokkan.
Terkait dengan kinerja wasit, Joko tak bisa menilai wasit yang tersangkut kasus suap. Penampilan di lapangan menjadi parameter kesuksesan kerja pemimpin pertandingan tersebut. "Wasit memimpin jelek, ya saya pecat," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Wasit PSSI Togar Manahan Nero menampik bahwa ada wasit yang tersangkut kasus suap. Dia malah menuding, ada makelar pertandingan yang bekerja dengan rapi. "Saya yakin, ada makelar antara wasit dan klub atau sebaliknya. Mereka mengambil keuntungan dari kedua belah pihak," jelasnya.
Dia menjamin, tidak ada wasit yang terlibat suap. Paling tidak, selama komite wasit PSSI dipimpin olehnya. "Kami juga tak mungkin melakukannya. Sebab, sistem organisasi komite wasit sangat terbuka," ujarnya. Dia juga pernah dicopot dari jabatan ketua Komdis PSSI karena terlibat suap pada 2007. (Tim Jawa Pos)
