Share |

Indonesia vs Singapura : Mendobrak Dominasi


Timnas Indonesia U-23 berada di setrip keempat peraih medali emas terbanyak SEA Games (SEAG). Tapi dari segi sejarah, Merah Putih muda unggul atas Singapura.

MerahPutih muda baru mengumpulkan masing-masing dua keping emas dan perak plus tiga perunggu sepanjang keikutsertaan di multievent tersebut sejak 1977.Timnas U-23 berada di bawah bayang-bayang Thailand, Myanmar, serta Malaysia. Keperkasaan Thailand ditunjukkan dengan koleksi 13 emas, 4 perak, dan 5 perunggu. Tony Sucipto dkk juga terpaut dua emas dari Malaysia yang tepat satu setrip di atas. Namun, mereka unggul dua emas atas rival di Grup B SEAG 2009, Singapura, yang berada tiga setrip di bawah. Ini sinyal bahwa Tony dkk tidak perlu berkecil hati saat menghadapi Singapura pada laga perdana Grup B, Sabtu (5/12).

The Lions– julukan Singapura–muda memang berpotensi jadi pengganjal pertama laju timnas. Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes menyatakan, Indonesia butuh pembinaan pemain muda yang terukur. ”Performa timnas terus menurun setelah SEAG 1991.Kami tidak mempermasalahkan banyak-sedikitnya medali, tapi proses pembinaan pemain. Harus ada kerja sama antara pemerintah dan induk cabor terkait program serta anggaran. Kami sudah ingatkan pemain agar tidak mengulangi kesalahan sama saat bertemu Singapura,” ungkapnya kemarin. Terlepas dari rivalitas Grup B, Thailand seharusnya jadi musuh bersama.

Tantangan diberikan bagi peserta SEAG untuk menghentikan dominasi mereka.Bukan hanya koleksi total 22 medali, tim dari Negeri Gajah Putih itu juga membawa rekor tidak terhentikan dalam delapan kali penyelenggaraan SEAG terakhir.Mereka selalu pulang membawa emas sejak SEAG 1993 sampai SEAG 2007. Namun, mereka hanya imbang 1-1 saat menghadapi Vietnam pada laga perdana Grup A SEAG 2009, Rabu (2/12). ”Thailand memiliki program dan perencanaan olahraga bagus. Mereka selalu memiliki stok pemain dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Apa yang mereka lakukan harus dipelajari,”tuturnya.

Negeri Gajah Putih muda mendapatkan titik balik performa pada SEAG 1981 dan berikutnya mencatatkan hat-trick emas. Namun, raihan tiga emas tersebut berhasil dipatahkan Merah Putihmuda di SEAG 1987 di Jakarta. Indonesia akhirnya merebut emas pertama setelah dua SEAG sebelumnya puasa medali.Timnas sempat meraih perak di SEAG 1979 dan perunggu pada SEAG 1981. Lalu,tim mana yang bisa mengganjal laju Thailand pada SEAG tahun ini? Dari delapan SEAG terakhir,Vietnam berhasil empat kali memberikan tekanan. Nasib bagus memang belum memayungi Vietnam.Tim berjuluk The Golden Startersebut dipaksa pulang membawa perak.

Nasib serupa dialami Myanmar pada dua bentrok kontra Thailand di final, meski mereka juga memiliki sejarah bagus. Myanmar yang saat itu bernama Burma adalah kolektor emas terbanyak (lima medali) ketika multievent ini berlabel Southeast Asian Peninsula Games (SAPG) sejak 1959 sampai 1975. Namun, medali emas pernah dimiliki bersama Myanmar-Thailand di SAPG 1965. Mungkinkah Myanmar juga jadi sinyal buruk bagi Tony dkk? ”Thailandagaksulitdihentikan. Vietnam atau Singapura belum terlalu kuat untuk menyaingi mereka. Tapi, usaha keras harus dilakukan. Timnas masih bisa mengatasi Myanmar. Mereka dahulu memang bagus, tapi gagal menyadari perkembangan pesat pesaingnya,”katanya.

Menggunakan acuan perolehan total medali emas bisa jadi peluang emas Merah Putihmuda mengecil. Bukan hanya bersaing dengan Thailand atau Vietnam, Singapura bahkan Malaysia juga terus bermetamorfosa. Tony dkk dikalahkan 1-3 oleh Malaysia dan takluk 0-2 dari Singapura pada beberapa uji coba terakhir. ”Mereka juga harus tunjukkan bahwa regenerasi di timnas itu ada.

Kebiasaan bermain keras di kompetisi jangan dibawa. Mereka harus bisa bedakan bermain dengan fighting spiritatau keras,”tandas Pelatih Persela Widodo C Putra. (wahyu argia)
Share on Google Plus

About 12paz