
Kekalahan 0-3 PSM dari Bontang FC, malam tadi, benar-benar terasa menyesakkan. Bukan hanya membuat rekor tak pernah kalah PSM atas Bontang dalam empat tahun terakhir berakhir. Tapi juga menjadi bukti bahwa tim ini belum solid.
Dua pemain asing anyar; Daniel Baroni dan Daryosuh "Dariu" Ayyoubi, dianggap sebagai salah satu pemicu. Kehadiran mereka tidak memberi kontribusi bagi tim.
Sebaliknya, permainan malah menjadi kacau balau. Baroni lemah di tengah, begitu juga Dariu di depan.
Hal itu dikatakan pelatih PSM, Hanafing. "Sejak awal saya sudah katakan. Saya butuh pemain asing yang sudah mengetahui iklim sepak bola Indonesia. Bukan yang baru mau belajar beradaptasi," ujar Hanafing, usai pertandingan.
Hanafing juga meminta manajemen untuk segera melakukan evaluasi. Khusus Dariu, Hanafing mengungkapkan bahwa sudah tidak ada jalan lain kecuali mendepaknya. Sebab, Dariu dinilai tak layak bermain di PSM.
"Kualitasnya di bawah standar. Jangankan untuk mencetak gol, menahan bola saja tidak bisa. Apa yang bisa diharapkan. Dariu sudah sampai lima pertandingan. Kalau memang ada dalam klausul kontrak dia bisa dilepas, lakukan saja," ucap Hanafing.
Asisten manajer bidang umum PSM, Faisal Maming, mengatakan bahwa evaluasi sudah menjadi harga mati. Khusus Dariu, selain tak memberi kontribusi, performa kurang maksimalnya juga sudah mengganggu tim secara keseluruhan. Mental pemain lainnya menjadi down.
Faisal berjanji, saat tiba di Makassar, manajemen akan berembuk untuk membicarakan bagaimana langkah yang akan ditempuh. "Pak Syahri Cakkari (asisten manajer bidang hukum) yang tahu betul soal seluk beluk kontrak pemain," kata Faisal.
Sebelumnya, Syahrir mengungkapkan bahwa memang ada klausul kontrak yang menyatakan bahwa jika dalam lima pertandingan Dariu tidak maksimal, kontraknya bisa diputus. Sebagai kompensasi, dia akan diberi kompensasi berupa pesangon senilai satu bulan gaji.
Ya, langkah manajemen PSM menarik dinanti. Jika benar mendepak Dariu, laga menghadapi Bontang FC boleh menjadi penampilan terakhir bagi pemain 29 tahun itu.
Yang jelas, dengan banderol Rp 800 juta, tak mampu menyumbang gol dalam lima penampilan, sungguh bukan sebuah gambaran kualitas. (zul)
