
PSM menuai hasil buruk dalam laga lanjutan Indonesia Super League (ISL) kala menjamu PSPS Pekanbaru di Stadion Andi Mattalatta, malam tadi. Tuan rumah takluk 1-2. Gol PSPS diborong striker asal Kamerun, Herman Dzumafo pada menit ke-42 dan ke-49. Sedangkan gol penghibur PSM dicetak Christian Carrasco pada menit ke-86.
Hasil ini membuat posisi PSM di klasemen semakin terpuruk, melorot ke peringkat delapan. Posisi itu satu strip di bawah PSPS yang sebelum laga malam tadi justru berada di bawah PSM. Dari lima laga, empat di antaranya pertandingan kandang, Syamsul Chaeruddin dkk hanya mampu meraih lima poin.
Pelatih PSM, Hanafing mengaku siap bertanggung jawab atas hasil ini. "Saya akui PSM bermain buruk. Sebagai pelatih, saya siap dievaluasi. Apapun keputusan manajemen, saya harus menerimanya dengan lapang dada. Inilah jalan seorang pelatih," kata Hanafing usai pertandingan.
Pada laga menghadapi PSPS yang notabene tim promosi, PSM bermain buruk. Pasukan Ramang larut dalam irama permainan lambat yang diperagakan tim tamu. Akibatnya, hingga 15 menit awal, tidak ada satu pun shoot on goal yang bisa diciptakan. Sebaliknya, PSPS beberapa kali menciptakan peluang.
Sejumlah eksperimen yang dilakukan Hanafing justru menjadi bumerang. Playmaker Daniel Suarez Baroni yang dipasang sebagai gelandang kiri justru menjadi kartu mati. Serangan demi serangan yang coba dibangun, lebih sering patah di kaki Baroni. Pergerakan lambat Baroni membuat lini tengah PSPS bisa dengan mudah mendikte PSM.
Keputusan Hanafing menyimpan Asri Akbar juga menjadi blunder. Lini kedua kurang greget. Diva Tarkas dan Syamsul Chaeruddin juga tak mampu menjaga keseimbangan permainan. Hanya gelandang muda Fadly M yang memperlihatkan kinerja lumayan. Beberapa kali pemain 19 tahun itu mengirim umpan-umpan silang dari di sisi kanan.
Kinerja bek kanan, Hendra Wijaya juga tak bisa dikatakan bagus. Tampil untuk pertama kalinya sebagai starter menggantikan Adnan Buyung, alumni PSM U-21 itu tampil mengecewakan. Serangan-serangan PSPS banyak bermula dari sektor yang ditempati Hendra. Salah satu penyebab terciptanya gol pertama Askar Bertuah, julukan PSPS, juga berkat kurang sigapnya Hendra.
Duet lini belakang, Hendry Nyobi dan Handi Hamzah juga bermain jauh di bawah form. Mereka kurang bisa mengantisipasi serangan dengan kombinasi satu-dua. Sementara di bawah mistar, Samsidar yang didera cedera, justru dimainkan penuh 90 menit. Di lini depan, Christian Carrasco dan Daryoush Ayyoubi kurang mendapat support.
Mantan pemain PSM, Assegaf Razak mengatakan bahwa PSM sebenarnya masih bisa menyamakan kedudukan pada sisa-sisa pertandingan. �Ironisnya, Daryoush Ayyoubi yang memiliki tubuh jangkung, malah ditarik keluar. Padahal, serangan dengan bola-bola long bisa dimanfaatkan di menit-menit akhir,� kata mantan asisten pelatih PSM itu.
Terhenti Dua Kali
Pertandingan PSM versus PSPS sempat dihentikan dua kali. Hal itu menyusul kericuhan yang melibatkan suporter. Penghentian pertama terjadi menit ke-65. Suporter di tribun terbuka sebelah selatan melakukan pembakaran. Ada juga yang melakukan pelemparan ke arah lapangan. Kubu PSPS pun sempat menolak melanjutkan pertandingan. Laga terhenti kurang lebih lima menit.
Pertandingan kembali dihentikan pada menit ke-76. Lagi-lagi terjadi kericuhan di tribun terbuka sebelah selatan. Bahkan, lemparan-lemparan juga dilakukan penonton dari tribun tertutup. Aparat kepolisian lalu bereaksi dengan merangsek ke tribun terbuka. Sejumlah penonton ditangkap. Namun, reaksi polisi yang berbalik melempar, membuat seorang perempuan menderita cedera (luka) di pelipisnya. (zul-aci)
