
La Nyalla, yang dulu vokal menyuarakan revolusi PSSI di daerah Jawa Timur, kecewa dengan hasil perjuangannya, yang justru dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang jauh dari upaya perbaikan sepak bola nasional.
“Kepengurusan yang sekarang ini kan hanya meneruskan program, kemarin sudah terpilih ketua umum dan Komite Eksekutif. Program yang sudah ada serahkan saja kepada yang ada sekarang, jangan didikte-dikte dari belakang,” ujarnya di kantor PSSI, Jakarta, Rabu (14/9/11).
“Ini yang bikin rusak kan gara-gara ada yang dikte-dikte dari belakang ini,” tambah ketua umum Pengurus PSSI Provinsi Jawa Timur itu. Saat ditanya apakah ada kepentingan di balik kebijakan-kebijakan PSSI selama ini, La Nyalla menjawab, “Ya, Pasti.”
La Nyalla juga mengungkapkan bahwa sejumlah anggota PSSI dari Jawa Timur mengaku mendapat tekanan untuk menuruti kemauan Arifin Panigoro, penggagas Liga Primer Indonesia yang dicap ilegal oleh PSSI.
“Apalagi saya dengar dari anggota saya bahwa yang tidak mau menurut sama Arifin Panigoro mau dilibas, suruh libas saya dulu, tidak apa-apa. Saya tidak nurut sama Arifin Panigoro, saya tidak tahu (siapa Arifin), saya hanya menurut pada statuta,” ungkapnya.
Pelanggaran-pelanggaran pengurus baru PSSI terhadap statuta diantaranya adalah perombakan struktur kompetisi liga. Format dua wilayah yang kini digunakan PSSI melanggar statuta, begitupula dengan pencabutan hukuman Persema Malang dan Persibo Bojonegoro. Menurut La Nyalla, hal tersebut hanya boleh dilakukan lewat kongres.
“Meskipun saya sendiri, selama melanggar statuta saya akan tetap melawan. Saya tak mau yang halal diharamkan dan haram dihalalkan hanya karena rapat Exco (Komite Eksekutif).”
“Saya nggak ada urusan sama Arifin Panigoro, tanggung jawab saya sama masyarakat bola, sama masyarakat Indonesia, PSSI. Saya bukan dipilih Arifin Panigoro, saya dipilih anggota,” tegasnya.