
Deadline FIFA untuk penyelesaian kisruh sepakbola Indonesia, 15 Juni 2012, sudah di depan mata. Untuk itu, tim investigasi AFC yang diutus FIFA untuk menelusuri dan mencari opsi penyelesaian dualisme kompetisi dan organisasi yang menyelimuti sepakbola Indonesia pun kembali panggil 2 kepengurusan PSSI, Rabu (6/6)-Kamis (7/6).
Perwakilan ke-2 kepengurusan PSSI, pimpinan La Nyalla Mattalitti dan Djohar Arifin Husin, pun sudah sampai di Kuala Lumpur, Selasa (5/6), dan sudah bertemu dengan tim investigasi AFC yang digalang Wakil Presiden AFC HRH Prince Abdullah lbni Sultan Ahmad Shah, Exco FIFA dan AFC Worawi Makudi, Sekjen AFC Alex Soosay, dan Ketua Komite Anggota Asosiasi serta Hubungan Internasional AFC James Johnson.
Pada hari pertama, Rabu (6/6), seperti yang dikatakan La Nyalla, pertemuan itu membahas soal opsi penyelesaian dualiasme kompetisi dan organisasi oleh ke-2 kepengurusan PSSI yang ditengahi tim investigasi AFC. Dan, pada hari ke-2, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait penyelesaian yang dibahas pada hari pertama dilakukan. MoU itulah yang akan dibawa tim investigasi AFC ke FIFA.
Menurut informasi yang didapat, pertemuan pada hari pertama itu berlangsung alot. Hal itu disampaikan La Nyalla yang masih berada di Surabaya, Rabu (6/6).
"Pertemuan berlangsung alot," tegas La Nyalla yang baru bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (7/6) pagi.
Pernyataan La Nyalla itu memang sudah diprediksi sebelumnya. Ya, PSSI di bawah pimpinannya memang sudah tegas menolak opsi rekonsiliasi apapun bentuknya. Mereka hanya mengusung 1 misi: FIFA melegitimasi kepengurusan PSSI yang terpilih di Kongres Luar Biasa (KLB) 18 Maret 2012. Jika misi itu gagal dicapai, mereka memilih FIFA menjatuhkan sanksi untuk sepakbola Indonesia.
"Lagipula, sanksi itu buat Djohar. Kami belum mendapatkan legitimasi, jadi jika disanksi, ya sanksi itu buat mereka. Sanksi pun akan membuat Djohar yang memang sudah kehilangan kepercayaan dari mayoritas atau lebih dari 2/3 anggota PSSI, juga akan kehilangan legitimasinya dari FIFA," terang La Nyalla.
"Jika itu yang terjadi, kami telah siap mengajukan gugatan ke Badan Arbitrase Internasional untuk Olahraga (CAS). Tidak ada yang salah dengan KLB 18 Maret 2012. Semuanya sudah sesuai aturan dan Statuta PSSI," pungkas La Nyalla lebih lanjut.
