Share |

Komersialisasi Kompetisi Belum Maksimal


Nilai komersialisasi kompetisi utama di Indonesia masih merah. Bahkan, pembiayaan beberapa produk kompetisi lain justru minus.

Musim 2009/2010 bisa dikatakan cukup berat.Sebab, nilai kompetisi belum tersebar merata.Baru penyelenggaraan Indonesia Super League (ISL) yang menjanjikan. ISL pada dua musim terakhir naik Rp2,5 miliar. Nilai ISL 2008/ 2009 memang hanya Rp35 miliar setahun. Jumlah itu sama seperti musim sebelumnya,saat Divisi Utama menjadi kasta tertinggi. Nilai komersialisasi saat itu tidak direvisi karena sponsor utama ingin melihat progres ISL.Namun, nilai komersialisasi pada tahun kedua ISL mengalami peningkatan,yakni Rp37,5 miliar semusim.

Bahkan, pada ISL 2010/2011 kompetisi sudah berlabel Rp40 miliar. Namun, Liga masih menguras kas demi menghidupi beberapa produk kompetisi lain sebagai dampak terbatasnya income dari sponsorship.Penyelenggaraan Divisi Utama 2009/2010 justru minus Rp5 miliar dan masa depannya suram. Kompetisi level kedua tersebut menelan anggaran Rp9 miliar. Problem bertambah rumit lantaran dana sponsor utama senilai Rp4 miliar belum dibayarkan semuanya. Sekjen PSSI Nugraha Besoes mengungkapkan, beberapa produk kompetisi masih terbelit problem sponsorship. Bukan hanya sebelumnya, pembiayaan kompetisi musim depan juga merah.

’’Kami harus melakukan internal audit lebih dahulu. PSSI tetap memikirkan problem sedikitnya pemasukan dari sponsorship. Saat ini memang baru ISL yang clear karena nilainya bisa meng-coverkebutuhan penyelenggaraan sebuah event. Kami memang sedang mencari sponsor untuk Divisi Utama musim depan,’’ ungkap Nugraha kemarin. PSSI dan Liga tampaknya harus memeras energi karena kick-off Divisi Utama tinggal dua pekan lagi. Nilai sponsorship minus juga muncul pada penyelenggaraan Piala Indonesia (PI) 2010. Income sponsor yang masuk berada pada kisaran Rp7 miliar, meski kebutuhan anggaran mencapai Rp10 miliar sampai Rp11 miliar. Imbasnya, Liga kembali memberikan subsidi Rp3 miliar sampai Rp4 miliar semusim.

Nugraha menambahkan, identifikasi minimnya income sponsorship terus dilakukan. ’’Divisi Utama dan PI masih berat.Kami sedang mencari tahu penyebab tidak maksimalnya sponsorship. Bagaimanapun, semua event menarik,’’ lanjutnya. Produk kompetisi lain dengan pemasukan sponsorship-nya memprihatinkan adalah ISL U-21.Kompetisi itu pada musim 2009/2010 butuh anggaran Rp7 miliar.Namun, income dari sponsorship hanya Rp1 miliar sehingga kompetisi setidaknya minus Rp6 miliar. CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono menyatakan, nilai komersial kompetisi secara umum menunjukkan progres bila berinteraksi dengan klub-klub ISL. Namun, kerja sama positif mulai ditunjukkan oleh sponsorship penghasil produk nontembakau meski masih membutuhkan waktu.

’’Liga bekerja keras mengatrol pemasukan dari sponsor.Beberapa event belum dibeli dengan harga memadai.Tapi, kami masih yakin rekanan bisnis di luar produk rokok masih antusias. Musim lalu baru kerja sama awal dengan mereka,’’ katanya. Sementara itu, Perwakilan PT Djarum Fatih Chabanto menyatakan, investasi sponsor didasarkan atas sasaran market dan potensi value yang akan didapat. Sponsorship juga masih memikirkan nilai psikologis.Artinya,prinsip fair play kompetisi harus dijalankan, insiden anarkisme ditekan, plus jaminan hak siar yang jelas.

’’Konsep di ISL lebih tertata. Untuk Divisi Utama, PSSI atau Liga harus mencari sponsorship yang sedang melakukan penetrasi ke daerah,’’ ujar Joko.
Share on Google Plus

About 12paz