
terusirnya laga Persik Kediri melawan Persebaya Surabaya, pada lanjutan Superliga Indonesia 2009/2010 putaran kedua ke Jawa Tengah, membuat Pantia Pelaksana Pertandingan (Panpel) 'Macan Putih' merugi hingga Rp 375 juta lebih.
Kerugian itu dialami panpel, karena harus kehilangan pendapatan dari sektor tiketing sekitar Rp 255 juta per laga. Estimasinya, harga tiket kelas ekonomi Rp 15 ribu dikali kapasitas lapangan 15.000 tempat duduk, serta biaya operasional ke Jawa Tengah yang mencapai Rp 150 juta.
"Apabila kita keluar, tentunya ada persiapan tehnik, belum lagi eboard kita harus bawa kesana, itu paling tidak kan satu kontainer sendiri. Hari ini sampai H-3 harus ada disana dalam kondisi persiapan maksimal," ungkap Ketua Panpel Persik Kediri Bambang Sumarjono, Kamis (22/4/2010).
Sebagai obat kekecewaan terhadap pihak keamanan (Polresta Kediri, red) yang telah mencekal laga pada 29 April 2010 mendatang nanti, Bambang meminta kepada Ketua Umum Persik Samsul Ashar, yang juga Walikota Kediri untuk menghidupkan kembali kebiasaan tre tet tet, alias membawa suporter dalam jumlah banyak
.
"Saya sudah minta pak Ketua Umum supaya tret tet tet itu dihidupkan lagi. Paling tidak kita butuh 50 bus, sekalian obat kecewa," terang Bambang.
Seperti diberitakan sebelumnya, panpel menunjuk dua alternatif stadion yang akan dipakai main Persik Kediri kontra Persebaya Surabaya setelah terusir dari Stadion Brawijaya Kediri. Yakni, di Stadion Manahan, Solo dan Stadion Mandala Krida di Sleman, Jogyakarta. [nng/kun]
